Jika Ramadan Tak Mengubah Kita, Lalu Apa Gunanya?

yupan
Sabtu, 21 Februari 2026 03:53 WIB
Dokumen Pribadi

 

Oleh: Fathan Faris Saputro (Koordinator Divisi Pustaka dan Informasi MPID PDM Lamongan)

Ramadan selalu datang dengan atmosfer yang berbeda. Ada aroma kedamaian yang menyelinap di sela-sela aktivitas kita. Ada keheningan yang mengajak kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Bulan ini bukan sekadar pergantian waktu, melainkan undangan langit agar manusia menata ulang arah hidupnya.

Di balik rutinitas sahur dan berbuka, Ramadan sesungguhnya adalah laboratorium besar bagi jiwa. Ia menjadi ruang latihan yang menghadirkan ujian sekaligus peluang. Lapar dan dahaga bukan tujuan utama, melainkan sarana pembelajaran. Di sanalah manusia diuji apakah ia mampu menahan diri atau tetap menjadi tawanan keinginan.

Sering kali kita terlalu sibuk melihat ke luar untuk mengejar pencapaian. Kita membandingkan hidup dengan orang lain tanpa henti. Kita mengumpulkan materi seolah waktu tidak akan berhenti. Ramadan datang untuk menarik kita pulang melihat ke dalam diri.

Saat perut kosong dan tenggorokan kering, kita diingatkan pada keterbatasan sebagai manusia. Kesadaran itu perlahan meluruhkan ego yang selama ini mengeras. Kita mulai memahami bahwa kekuatan sejati bukan pada kepemilikan, melainkan pada pengendalian. Dari titik inilah perubahan diri menemukan pintu masuknya.

Perubahan tidak lahir dari ceramah panjang, melainkan dari latihan yang berulang. Ramadan menyediakan waktu tiga puluh hari yang sarat kesempatan. Rentang itu cukup untuk menanam benih kebiasaan baru. Jika dijalani dengan sungguh-sungguh, ia dapat mengubah arah karakter seseorang.

Perubahan pertama biasanya tampak dari lisan. Ramadan melatih kita menahan kata-kata kasar, gosip, dan keluhan. Lisan yang biasanya liar perlahan belajar tertib. Kata-kata yang keluar pun mulai dipilih agar lebih menenangkan daripada melukai.

Perubahan berikutnya terlihat pada sikap terhadap harta. Zakat dan sedekah mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan soal menumpuk, melainkan berbagi. Kita belajar bahwa rasa cukup tidak ditentukan angka, melainkan rasa syukur. Dari memberi, hati justru terasa lebih kaya.

Disiplin juga tumbuh melalui kebiasaan sahur dan ibadah malam. Bangun lebih awal bukan perkara mudah bagi sebagian orang. Namun Ramadan melatih tubuh dan jiwa untuk patuh pada panggilan kebaikan. Latihan ini menanamkan kesadaran bahwa kedisiplinan spiritual berdampak pada seluruh aspek kehidupan.

Tantangan terbesar bukanlah menjalani Ramadan, melainkan mempertahankan hasilnya. Banyak orang bersemangat di awal, lalu kembali lalai setelah ia berlalu. Suasana khusyuk perlahan memudar digantikan rutinitas lama. Padahal, keberhasilan Ramadan justru diukur dari perubahan setelahnya.

Jika selama Ramadan kita mampu sabar dalam antrean panjang menjelang berbuka, seharusnya kesabaran itu tidak hilang di bulan berikutnya. Jika kita sanggup menahan amarah karena berpuasa, semestinya kita juga bisa menahannya saat tidak berpuasa. Nilai Ramadan seharusnya menetap, bukan sekadar singgah. Ia harus menjadi karakter, bukan hanya kenangan.

Ramadan adalah titik balik yang selalu diberi setiap tahun. Ia seperti bengkel rohani tempat jiwa diperbaiki dari kelelahan dan noda. Di sana manusia diajak memaafkan, memperbaiki, dan memulai lagi. Kesempatan itu terlalu berharga untuk dilewatkan tanpa perubahan.

Pertanyaan terpenting bukanlah apakah kita telah berpuasa, melainkan apakah kita telah bertumbuh. Ramadan bukan lomba menahan lapar, melainkan perjalanan menuju kedewasaan batin. Jika setelahnya kita tetap sama, berarti ada pelajaran yang belum kita pahami. Sebab Ramadan sejatinya hadir bukan untuk lewat begitu saja, tetapi untuk mengubah siapa kita.

Baca Lainnya