Langka: Menjadi Selebriti Langit yang Tak Punya Followers di Bumi

yupan
Sabtu, 21 Februari 2026 03:48 WIB
Dokumen Pribadi


Oleh: Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I
Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya – Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya

Rasulullah SAW Bersabda : 
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ
"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa (At-Taqi), yang merasa cukup/kaya hati (Al-Ghani), dan yang tersembunyi (Al-Khafi)." (HR. Muslim no. 2965)

Di era di mana "eksistensi" sering kali hanya diakui jika tersemat dalam angka pengikut atau deretan komentar. Hadits ini menawarkan tiga anak tangga menuju kemerdekaan jiwa yang hakiki. Mari kita bedah satu per satu:

1. At-Taqi (التقي) : Standardisasi Karakter di Balik Layar
Anak tangga pertama adalah At-Taqi (takwa). Takwa adalah melakukan kebaikan karena sadar akan kehadiran Tuhan, bukan karena adanya sorot kamera. Di zaman digital, takwa berarti tetap menjaga integritas saat tidak ada yang melihat dan tetap menjaga jari dari hal yang sia-sia di ruang privat. Sebelum kita ingin dicintai manusia, hadits ini mengingatkan bahwa tiket utama cinta Allah adalah kualitas hubungan kita yang paling jujur dengan-Nya.

2. Al-Ghani (الغني) : Kekayaan yang Membebaskan dari Validasi
Para ulama menafsirkan Al-Ghani di sini sebagai Ghaniyyun Nafsi—kaya hati atau merasa cukup. Ini adalah kemampuan mental untuk tetap merasa "penuh" meskipun tidak ada yang memuji. Seseorang yang Al-Ghani telah selesai dengan egonya. Ia tidak lagi "haus" akan validasi publik karena ia merasa pengakuan Allah sudah lebih dari cukup. Ia merdeka karena tidak lagi menggantungkan kebahagiaannya pada tombol like orang lain.

3. Al-Khafi (الخفي) : Seni Menjadi "Anonim" yang Dicintai
Inilah puncaknya: Al-Khafi. Sosok yang tersembunyi. Di zaman yang mengagungkan personal branding, menjadi "tersembunyi" terdengar seperti kegagalan. Namun, di mata Allah, inilah posisi yang sangat eksklusif. Sosok Al-Khafi adalah antitesis dari budaya viral. Ia adalah orang yang membangun "taman rahasia" dalam hatinya—sebuah ruang di mana kebaikannya sengaja dikubur rapat-rapat agar tidak terendus oleh pujian manusia.

Belajar dari Sang Penduduk Langit: Uwais al-Qarni

Jika kita mencari potret nyata dari hadits ini, maka Uwais al-Qarni adalah jawabannya. Ia adalah definisi sempurna dari seorang selebriti langit yang tak punya pengikut di bumi.
Di Yaman, ia hanyalah pria miskin, berpenampilan lusuh, dan sering kali dianggap tidak ada oleh masyarakatnya. Namanya tidak pernah tercatat sebagai tokoh penting dalam strata sosial. Namun, Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai orang yang doanya mampu menggetarkan Arsy. Rasulullah ﷺ berpesan:
مَجْهُولٌ فِي الْأَرْضِ، مَعْرُوفٌ فِي السَّمَاءِ
"Dia tidak dikenal di bumi, namun sangat dikenal di langit."
Uwais adalah bukti bahwa kemuliaan tidak butuh panggung. Ia tidak butuh pengikut untuk diakui Tuhan; ia hanya butuh ketulusan dalam kesunyian yang pengap.

Kesimpulan: Memilih Popularitas yang Abadi

Menjadi "selebriti langit" adalah sebuah pilihan sadar untuk menjaga kemurnian niat. Di saat dunia memaksa kita untuk selalu tampil, kita bisa memilih untuk sesekali menarik diri.
Mari kita mulai membangun "amalan rahasia"—sebuah kebaikan yang kita lakukan diam-diam, lalu kita simpan rapat-rapat sebagai rahasia manis antara kita dengan Sang Pencipta. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukanlah saat nama kita trending di linimasa manusia, melainkan saat nama kita disebut-sebut dengan penuh rindu oleh para penduduk langit.

Baca Lainnya