Potret Buram  Empati: Saat Trauma Anak Korban Banjir Aceh Dibalas Sinisme Politik

yupan
Rabu, 10 Desember 2025 09:02 WIB
Sumber foto: Repro tiktok @inilahcom

Oleh: Ubaidillah

Sebuah video singkat berdurasi satu menit yang beredar di media sosial TikTok baru-baru ini berhasil merekan dua sisi wajah Indonesia sekaligus. Penderitaan korban bencana yang menyayat hati dan krisis empati di ruang digital yang kian mengkhawatirkan.

Video tersebut menampilkan seorang anak perempuan korban banjir bandang di Aceh. Duduk di atas batang pohon tumbang dengan latar belakang rumah-rumah yang luluh lantah disapu air bah, anak tersebut memberikan kesaksian polos namun mengguncang jiwa. “saya pikir besok hari kiamar,” ucapnya dengan tatapan kosong.

Ia bahkan mengaku kini trauma melihat hujan, fenomena alam yang seharusnya membawa berkah namun baginya telah menjadi sinyal maut. “lihat hujan saja sudah takut,” tambahnya.

Narasi visual ini seharusnya cukup untuk mengetuk pintu hati siapa saja yang melihatnya. Namun, realitas di kolom komentar menunjukkan anomali yang memilukan. Alih-alih simpati atau doa, unggahan tersebut justru dibanjiri komentar sinis yang bermuatan politis. Kalimat seperti “Katanya Aceh mau buat negara sendiri? mana presidennya?” atau “Beda negara tidak usah dipedulikan” bermunculan secara masif.

Fenomena ini menandakan adanya pergeseran nilai yang serius dalam masyarakat kita. Ketika sentimen kedaerahan dan residu konflik masa lalu mendominasi daripada rasa kemanusiaan.

Reaksi warga net ini mencerminkan apa yang disebut sebagai nir-empati atau ketiadaan empati akibat polarisasi politik yang menahun. Bencana alam yang menimpa warga negara sendiri justru dijadikan panggung untuk melampiaskan ketidaksukaan terhadap status Otonomi Khusus yang disandang Aceh.

Padahal, mengaitkan trauma seorang bocah yang kehilangan tempat tinggal dengan isu separatisme atau kebijakan anggaran pusat-daerah adalah tindakan yang tidak hanya tidak relevan tetapi juga ahistoris.

Ironisnya, narasi kebencian yang mempertanyakan ke-Indonesia-an Aceh tersebut seolah merupakan tinta emas sejarah republik ini. Publik perlu diingatkan kembali bahwa Aceh adalah salah satu pemegang saham terbesar dalam pendirian Republik Indonesia. Ketika negara ini baru seumur jagung dan nyaris bangkrut, rakyat Aceh lah yang secara sukarela mengumpulkan harta, perhiasan, dan emas mereka untuk membelikan pesawat angkut pertama Indonesia, Dakota RI-001 Seulawah.

Pesawat inilah yang menjadi cikal bakal maskapai penerbangan nasional dan menjadi alat diplomasi vital saat agresi militer Belanda mencekik ibu kota.
Lebih lanjut lagi, sejarah mencatat Aceh sebagai daerah modal. Saat pemimpin republik ditangkap di Yogyakarta pada tahun 1948, Aceh tetap berdiri tegak dan menjadi satu-satunya wilayah yang gagal dikuasai sepenuhnya oleh Belanda.

Melalui radio Rimba Raya di hutan Aceh lah disiarkan keseluruh dunia bahwa Indonesia masih ada. Tanpa peran Aceh saat itu, narasi kemerdekaan Indonesia di mata Internasional mungkin sudah tamat.

Oleh karena itu, komentar-komentar yang menganggap Aceh sebagai orang asing atau beda negara saat terjadi musibah adalah bukti rendahnya literasi sejarah. Status keistimewaan yang diberikan negara kepada Aceh adalah bentuk penghormatan konstitusional atas sejarah panjang dan karakteristik daerah tersebut dalam bingkai NKRI, bukan alasan untuk memutus tali persaudaraan saat bencana melanda.

Tragedi banjir bandang di Aceh seharusnya menjadi momentum refleksi nasional. Bencana alam tidak pernah memilah korbannya berdasarkan afiliasi politik atau batas administratif provinsi. Air bah tidak bertanya apakah korbannya pro pusat atau pro daerah sebelum menghancurkan rumah mereka.

Di hadapan bencana yang ada hanyalah manusia yang membutuhkan pertolongan sesama manusia.
Mengedepankan ego politik di atas penderitaan rakyat adalah kemunduran peradaban. Sudah saatnya publik memisahkan kritik terhadap kebijakan pemerintah dengan solidaritas kemanusiaan.

Anak kecil di video tersebut membutuhkan pemulihan trauma dan bantuan logistik, bukan perundungan digital yang mempertanyakan kewarganegaraannya. Keutuhan bangsa ini tidak hanya dijaga lewat slogan NKRI Harga Mati. Tetapi lewat tindakan nyata untuk saling merangkul saat saudara sebangsa sedang jatuh tertimpa tangga.

Baca Lainnya
Setiap Hari adalah Hari Ibu: Refleksi Aku dan Mama
Nashrul Mu'minin
  • 0 Suka .
  • 0 Komentar .
  • 23 Hari