Refleksi Ramadhan Digital: Antara Kemudahan Ibadah dan Jebakan Lalai di Genggaman
yupan
Jumat, 20 Februari 2026 07:58 WIB
Surabaya, eNews – Wajah Ramadhan telah mengalami transformasi besar seiring dengan derasnya arus digitalisasi. Jika dahulu suasana bulan suci identik dengan jadwal imsakiyah kertas yang tertempel di dinding, kini seluruh panduan ibadah telah berpindah ke dalam genggaman tangan melalui smartphone.
Menyikapi fenomena ini, tokoh masyarakat sekaligus tokoh agama asal Surabaya, H. Sutikno, S.Sos, M.H., memberikan pandangan mendalam mengenai bagaimana teknologi seharusnya berperan memperkuat tradisi, bukan justru melunturkan nilai spiritual.
Ibadah dalam Genggaman: Era Baru Kedekatan pada Allah
Sutikno menjelaskan bahwa digitalisasi membawa keberkahan melalui kemudahan akses ibadah. Beberapa poin krusial yang ia soroti antara lain:
- Presisi Waktu: Aplikasi jadwal shalat dan imsakiyah meminimalisir kesalahan waktu, terutama bagi para musafir.
- Literasi Al-Qur'an: Kehadiran Al-Qur'an digital memudahkan umat untuk membaca dan mentadabburi ayat suci di mana saja.
- Akses Ilmu Tanpa Batas: Kajian dari para ulama dunia kini bisa disimak sambil menyiapkan sahur atau di tengah kemacetan lalu lintas.
- Zakat Transparan: Penggunaan sistem pembayaran digital seperti QRIS membuat penyaluran zakat menjadi lebih cepat, transparan, dan menjangkau pelosok.
Perspektif Fiqih: Teknologi sebagai Penyedia Kemudahan
Secara hukum Islam, Sutikno menekankan bahwa penggunaan teknologi dalam ibadah adalah sesuatu yang diperbolehkan sepanjang tujuannya baik. Ia merujuk pada kaidah fiqih: "Hukum asal segala sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang melarangnya."
Lebih lanjut, ia mengutip QS. Al-Baqarah: 185, di mana Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya.
"Teknologi dalam konteks ini berperan sebagai penyedia kemudahan, bukan penyulit. Ini adalah sarana pendukung ketaatan," jelasnya.
Tantangan: Waspadai 'Lalai' di Balik Layar
Namun, Sutikno juga memberikan catatan kritis. Dunia digital bagaikan pisau bermata dua. Ia memperingatkan bahwa tanpa kebijakan, waktu berharga di bulan Ramadhan bisa habis hanya untuk scrolling tanpa tujuan atau terjebak dalam perdebatan yang tidak perlu.
"Hati-hati dengan godaan mengunggah momen ibadah demi konten. Hal ini dapat mengancam keikhlasan hati kita. Jangan sampai digitalisasi menjadi penghalang bagi kebaikan yang hakiki," pesannya.
Peluang Amal Jariyah Modern
Di akhir ulasannya, Sutikno mengajak umat Islam untuk tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga menjadi produsen kebaikan. Dakwah digital adalah peluang emas sebagai amal jariyah. Satu potongan ayat atau video tausiyah singkat yang diunggah secara bijak dapat menjangkau jutaan orang, selaras dengan perintah dalam QS. Ali Imran: 104 untuk menyeru kepada kebajikan.
"Digitalisasi adalah keberkahan jika kita bijak. Jadikan alat ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan memperluas jangkauan pahala, bukan sebaliknya," pungkasnya.
Baca Lainnya
Jika Ramadan Tak Mengubah Kita, Lalu Apa Gunanya?
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Jam
Langka: Menjadi Selebriti Langit yang Tak Punya Followers di Bumi
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Jam
Gagal Puasa Sebelum Maghrib: Menjual Akhlak Demi Konten dan Nongkrong Malam
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Hari
Sholeh di Sajadah, Salah di Sosial Media: Menakar Ketulusan Taqwa di Era Digital
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 2 Hari
Refleksi Ramadhan 2026: Menjadikan Puasa sebagai Obat Penawar "Luka Moral" Bangsa
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 3 Hari
Menyulam Harmoni di Balik Perbedaan Awal Ramadhan: Kedewasaan Umat dalam Bingkai Ukhuwah
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 4 Hari
Sambut Gerakan Indonesia ASRI: Ubah "Bom" Sampah Menjadi Warisan Keindahan
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 8 Hari
Dua Wajah Kepemimpinan Surabaya: Memeluk yang Rapuh, Menopang yang Jatuh
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 10 Hari
Tragedi NTT dan Matinya Kemanusiaan di Dunia Pendidikan
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 15 Hari
