Aksi Jurnalis Cilik SDM 22 Surabaya: Mengupas Bahaya "Jebakan Batman" Hoax di Era Digital

yupan
Selasa, 27 Januari 2026 15:42 WIB
Aksi dua siswa berprestasi dari kelas 5C, yakni Muhammad Arsy Arundaya Kurniawan (kanan) sebagai pewawancara dan Muhammad Farras Ibnu Sina sebagai narasumber.

 

Surabaya, eNews – Era digital membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan, terutama terkait maraknya informasi palsu atau hoax. Menanggapi fenomena ini, jurnalis cilik SD Muhammadiyah 22 Surabaya melakukan peliputan khusus melalui wawancara mendalam pada Selasa (27/1/2026).

​Kegiatan ini menampilkan dua siswa berprestasi dari kelas 5C, yakni Muhammad Arsy Arundaya Kurniawan sebagai pewawancara dan Muhammad Farras Ibnu Sina sebagai narasumber.

Hoax: Bukan Sekadar Berita Bohong

​Dalam wawancara tersebut, terungkap bahwa anak-anak usia SD kini sangat akrab dengan gawai (gadget), namun sering kali belum memiliki kemampuan matang untuk membedakan antara fakta dan "gorengan" informasi. Farras menjelaskan bahwa dampak hoax bisa sangat nyata bagi mental dan sosial anak-anak.

​Beberapa risiko utama yang diwaspadai antara lain:

  • Ketakutan dan Kecemasan: Berita bohong soal penculikan atau bencana sering kali membuat anak trauma dan takut ke sekolah.
  • Pola Pikir Keliru: Informasi palsu menghambat pembentukan logika dan fondasi pengetahuan yang benar.
  • Memicu Perundungan (Bullying): Hoax sering menyerang kelompok tertentu, yang memicu anak untuk ikut mengucilkan temannya tanpa bukti.
  • Keamanan Fisik: Adanya tantangan (challenge) berbahaya di media sosial yang bisa berakibat fatal jika ditiru tanpa pengawasan.

Analogi "Jebakan Batman"

​Untuk memudahkan pemahaman teman-teman sebayanya, para jurnalis cilik ini menggunakan analogi yang sederhana. Mereka menyebut hoax sebagai "Jebakan Batman"—cerita bohong yang pura-pura benar agar orang merasa takut atau marah.

​"Sebelum percaya, kita harus jadi detektif dulu. Tanya ke Mama, Papa, atau Guru apakah berita itu benar atau cuma karangan," ujar Farras 

Langkah Preventif bagi Orang Tua dan Guru

​Wawancara ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi bagi lingkungan dewasa di sekitar anak:

  1. Validasi Perasaan: Jangan memarahi anak jika mereka merasa takut karena suatu berita; dengarkan dan tunjukkan faktanya.
  2. Ajarkan Cek Sumber: Tanamkan kebiasaan untuk tidak langsung membagikan pesan sebelum bertanya pada orang dewasa.
  3. Pendampingan Gawai: Memastikan konten sesuai umur dan mengaktifkan fitur Parental Control.

​Aksi inspiratif Arsy dan Farras ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh siswa SD Muhammadiyah 22 Surabaya agar lebih bijak dan kritis dalam bermedia sosial.

Baca Lainnya