Refleksi Isra Mi’raj di Masjid Al Azhar Surabaya, Mentransformasi Ritual Shalat Menjadi Integritas dan Kepedulian Sosial

yupan
Kamis, 15 Januari 2026 20:29 WIB
Dokumen Pribadi

 

Surabaya, eNews – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar perayaan perjalanan kosmik yang menembus batas logika, melainkan sebuah titik balik fundamental bagi pembentukan karakter dan integritas seorang Muslim. Hal tersebut ditegaskan oleh H Sutikno SSos MH, Ketua Takmir Masjid Al Azhar Surabaya, dalam pesannya memperingati peristiwa tersebut.

​Menurutnya, puncak perjalanan Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat secara langsung merupakan penegasan bahwa ibadah ini adalah pondasi utama kepribadian.

Shalat sebagai Mesin Penggerak Integritas

​Sutikno menjelaskan bahwa shalat adalah instrumen utama untuk membentuk karakter bersih melalui perasaan selalu diawasi oleh Allah SWT (muraqabah). Kesadaran akan kehadiran Tuhan inilah yang melahirkan integritas, yakni keselarasan antara keyakinan, ucapan, dan perbuatan.

​"Shalat adalah 'rem' bagi kita saat akan melakukan ketidakjujuran. Jika seseorang mampu menjaga amanah waktu dalam shalat, maka seharusnya ia juga mampu menjaga amanah dalam jabatan serta tanggung jawab sosialnya," papar tokoh yang beralamat di Jalan Dupak Bandarejo Nomor 25 Surabaya tersebut.

​Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Surat Thaha ayat 14, yang menekankan bahwa shalat didirikan sebagai sarana untuk mengingat Allah.

Dari Salam Menuju Kedamaian Lingkungan

​Lebih lanjut, Sutikno menguraikan filosofi gerakan shalat yang dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Takbiratul ihram melambangkan pemutusan hubungan dunia demi Allah, sementara salam adalah simbol komitmen seorang Muslim untuk membawa kedamaian bagi lingkungan sekitar.

​Sesuai dengan Surat Al-Ankabut ayat 45, shalat sejatinya berfungsi mencegah perbuatan keji dan munkar. "Kualitas shalat seseorang harus tercermin dalam perilaku sehari-hari, terutama dalam meningkatkan empati dan kepedulian terhadap sesama," tambahnya.

Membawa "Oleh-oleh Langit" ke Bumi

​Meneladani Isra Mi’raj di masa kini, menurut Sutikno, berarti membawa "oleh-oleh langit" untuk diterapkan di bumi. Shalat bertindak sebagai jembatan yang tidak hanya menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga menguatkan tanggung jawab sosial.

​Harapan besarnya, momentum Isra Mi’raj ini mampu mentransformasi shalat menjadi energi positif dalam kehidupan masyarakat. "Semoga kita tidak hanya menjadi hamba yang shaleh secara ritual, tetapi juga menjadi manusia yang bermanfaat dan terpercaya (amanah) bagi lingkungan sekitar," pungkasnya.

Baca Lainnya