Tradisi Kenduren di Lokasi TMMD 127: Simbol Kemanunggalan TNI dan Warga Wonogiri Sambut Ramadhan

Agus Suyono
Rabu, 18 Februari 2026 13:55 WIB
Istimewa

 

Wonogiri, eNews – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, suasana hangat menyelimuti lokasi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-127 Kodim 0728/Wonogiri. Para prajurit Satgas TMMD bersama warga Dusun Kembang, Desa Kembang, menggelar tradisi Kenduren sebagai wujud syukur dan doa bersama di sela-sela pengerjaan infrastruktur desa, Rabu (18/2/2026).

​Kenduren yang merupakan warisan adat masyarakat Jawa ini menjadi momentum refleksi spiritual sekaligus penguat tali silaturahmi antara aparat dan masyarakat sebelum memasuki bulan puasa.

Wujud Syukur dan Doa Berkah

​Danramil 15/Jatipurno, Kapten Inf Budiono, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memohon kelancaran tugas Satgas TMMD serta keberkahan bagi seluruh warga dalam menyambut bulan suci.

​“Selain doa bersama, momen makan bersama nasi kondangan atau bungkusan ini menunjukkan kekompakan yang luar biasa. Warga secara swadaya menyiapkan makanan untuk para prajurit. Ini adalah bukti nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ujar Kapten Inf Budiono.

 

Sinergi Sosial Menjelang Puasa

​Tak hanya ritual doa dan makan bersama, sinergi antara Satgas TMMD dan warga Desa Kembang juga diwujudkan melalui aksi sosial nyata. Menjelang Ramadhan, mereka bergotong-royong membersihkan tempat ibadah (masjid) di lingkungan sekitar agar masyarakat dapat beribadah dengan nyaman dan khusyuk.

​Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat rasa kekeluargaan, sehingga seluruh target pembangunan infrastruktur dalam program TMMD 127 dapat berjalan lancar tanpa hambatan, meski nantinya para prajurit dan warga menjalankan ibadah puasa.

Poin Penting Kegiatan:

  • Tradisi Lokal: Pelestarian nilai budaya Kenduren di tengah penugasan militer.
  • Gotong Royong: Persiapan fisik dan batin menyambut bulan suci melalui bersih-bersih masjid.
  • Sinergi Strategis: Memastikan proyek infrastruktur desa tetap selaras dengan kearifan lokal.

​Dengan semangat Fastabiqul Khairat, kolaborasi di Desa Kembang ini menjadi bukti bahwa pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan pembangunan mental dan spiritual masyarakat.

Baca Lainnya