Filosofi Air Murni Gus Imsap: Mengubah Wajah LKSA Surabaya Menjadi Pusat Ekselensi Dakwah 5.0

yupan
Minggu, 15 Februari 2026 18:25 WIB
Istimewa

 

Mojokerto, eNews– Udara sejuk di Hall Hotel Permata Biru, Trawas, menjadi saksi bisu lahirnya para da'i peradaban digital. Sebanyak 47 santri pilihan dari Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah Kota Surabaya berkumpul dalam perhelatan “Baitul Arqam Da’i Muda LKSA Muhammadiyah” yang berlangsung selama dua hari, 14-15 Februari 2026.

​Memasuki sesi pamungkas pada Ahad pagi (15/2), suasana terasa berbeda. Ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan sebuah misi "Navigasi Strategis" untuk mencetak pendakwah yang kreatif dan inovatif di era Masyarakat 5.0.

Sinergi Pimpinan dan Semangat Muda

​Kegiatan ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PDM Surabaya. Kehadiran mereka memberikan suntikan moral bagi para peserta yang antusias menyerap ilmu dari tokoh muballigh kontemporer, Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I., atau yang akrab disapa Gus Imsap.

​Selaku Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya, Gus Imsap tampil totalitas. Dengan narasi yang segar, beliau mengingatkan agar da’i masa kini tidak boleh kehilangan arah.

​"Da’i jangan seperti nakhoda tanpa kompas di Selat Madura; hanya berputar-putar tanpa tujuan yang jelas," tegasnya.

 

Dakwah: Air Murni dalam Kemasan Estetik

​Inti dari materi Gus Imsap terletak pada analogi "Filosofi Air Murni". Beliau menekankan pentingnya packaging atau pengemasan dalam berdakwah.

​"Islam adalah air murni yang segar. Namun, jika wadahnya kotor atau pecah, orang tidak akan mau meminumnya. Semakin menarik kemasan dan branding-nya, semakin banyak orang yang tertarik untuk membeli," jelasnya.

​Dalam konteks tafsir kekinian, Gus Imsap mengajak peserta membedah dua landasan Al-Qur'an:

  • QS. An-Nahl 125: Beliau memaknai “dakwah bil hikmah” sebagai penguasaan strategi dan teknologi, sementara “mauidhoh hasanah” diwujudkan melalui konten kreatif.
  • QS. Ibrahim 4: Mengacu pada ayat ini, Gus Imsap menegaskan bahwa "bahasa kaum" saat ini bagi Gen-Z adalah bahasa visual, meme yang sopan, podcast, hingga aksi nyata.

Inovasi dari Panti untuk Dunia

​Antusiasme memuncak saat memasuki diskusi "Dakwah Bil Maal". Fenomena gerakan seperti "Sedekah Sampah Digital" menjadi bukti bahwa LKSA atau panti asuhan bukan lagi sekadar tempat menerima bantuan, melainkan sebuah Center of Excellence yang memberi manfaat luas melalui teknologi.

​Simulasi menarik pun dilakukan: seorang santri yang mungkin pemalu untuk berorasi di panggung, tetap bisa menjadi da’i hebat melalui editan video pendek yang estetis tentang adab sehari-hari di panti.

Tiga Pilar Da’i Muda Surabaya

​Sebagai penutup, Gus Imsap merangkum tiga prinsip utama yang harus dipegang teguh oleh kader Muhammadiyah Surabaya:

  1. Keren Spiritualnya: Akar kuat pada shalat dan mengaji.
  2. Cerdas Strateginya: Batang kokoh dalam memilih media dakwah.
  3. Kreatif Aksinya: Buah karya yang dapat dinikmati masyarakat luas.

​Acara diakhiri dengan tantangan nyata: seluruh peserta diminta mengunggah satu konten positif di TikTok, Instagram, atau WhatsApp yang mampu mengingatkan orang kepada Allah dalam waktu 24 jam.

​"Dunia tidak butuh lebih banyak orang yang hanya pintar mengkritik," pungkas Gus Imsap. "Dunia butuh anak muda yang mampu mengemas kebenaran dengan keindahan." (Ulul Albab)

Baca Lainnya