Sinergi Lintas Iman: IRI Indonesia Masuki Fase 3 Perkuat Gerakan Moral 'No Forest, No Future'

Andi Hariyadi
Kamis, 12 Februari 2026 20:43 WIB
Fasilitator Nasional IRI Indonesia, Hening Parlan, bersama Agung Sudrajat, Senior Policy Adviser, Indonesia and PNG Programme, dan Ana Osuna Orozco, IRI Program and Grants Manager di hadapan para peserta Workshop Visi, Strategi, dan Perencanaan Program IRI Indonesia Phase 3 yang berlangsung pada 9–11 Februari 2026 di Jakarta.

 

Jakarta, eNews – Di tengah ancaman krisis iklim dan laju deforestasi yang kian mengkhawatirkan, Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia secara resmi mengonsolidasikan kekuatan moral lintas agama untuk melindungi sisa hutan tropis Nusantara. Langkah strategis ini dikukuhkan dalam Workshop Visi dan Perencanaan Program IRI Indonesia Fase 3 yang berlangsung di Jakarta, 9–11 Februari 2026.

​Forum ini menjadi jembatan antara pemimpin agama, tokoh adat, ilmuwan, dan pemerintah untuk memastikan bahwa perlindungan hutan bukan sekadar isu teknis, melainkan panggilan etis bagi seluruh umat manusia.

Pendekatan Khas: Pertemuan Iman dan Sains

​Fasilitator Nasional IRI Indonesia, Hening Parlan, menjelaskan bahwa Fase 3 merupakan momentum transisi dari sekadar kegiatan menuju dampak nyata yang dapat dikawal bersama. Sebagai forum lintas iman, IRI memposisikan diri sebagai gerakan moral non-partisan yang bekerja berdasarkan data sains namun digerakkan oleh nilai spiritual.

​"IRI Indonesia bekerja bersama sains, masyarakat adat, dan mitra kebijakan. Fokus kami ke depan adalah dampak yang nyata bagi 120 juta hektare hutan tropis Indonesia yang tersisa," tegas Hening.

Pesan Moral: Hutan sebagai Keadilan Lintas Generasi

​Peringatan keras muncul dari Prof. Dr. Pilip K. Widjaja, Advisory Council IRI Indonesia. Ia menyatakan bahwa slogan "No Forest, No Future" bukan sekadar jargon, melainkan peringatan akan hilangnya identitas dan ruang hidup anak cucu jika deforestasi terus berlanjut.

​"Ketika hutan dirusak, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi ingatan leluhur dan masa depan kita. Doa harus berjalan bersama keberanian untuk membela kehidupan," ujar Prof. Pilip. Ia menekankan tiga pilar aksi: pengakuan hak masyarakat adat, akuntabilitas negara/korporasi, serta aksi iman yang nyata.

 

Dukungan Kebijakan dan Jejaring Global

​Kehadiran IRI Indonesia juga mendapat perhatian dunia internasional. Ana Osuna Orozco, IRI Program and Grants Manager, menegaskan bahwa gerakan di Indonesia adalah bagian krusial dari jejaring lima negara hutan tropis utama dunia. Kekuatan utama gerakan ini terletak pada kemampuannya menyatukan pihak-pihak dengan latar belakang iman dan politik yang berbeda demi satu tujuan: kelestarian bumi.

​Senada dengan hal tersebut, Senior Policy Adviser Agung Sudrajat mengingatkan pentingnya akuntabilitas dan konsistensi kerja kolaboratif agar program ini terus mendapat kepercayaan publik serta mitra internasional.

Rencana Aksi Strategis 2026

​Melalui workshop ini, IRI Indonesia telah menyepakati beberapa arah strategis untuk tahun 2026, di antaranya:

  • Advokasi Kebijakan: Mendorong regulasi yang pro-hutan dan melindungi hak-hak Masyarakat Adat.
  • Integrasi Data: Memasukkan data ilmiah ke dalam narasi pesan keagamaan di rumah ibadah.
  • Kampanye Publik: Memperluas gerakan "No Forest, No Future" hingga ke tingkat komunitas basis.

​Penutupan rangkaian kegiatan ini menyisakan pesan tegas bagi dunia: Melindungi hutan tropis adalah tanggung jawab kemanusiaan bersama. Tanpa hutan, tidak ada masa depan bagi peradaban.

Tentang IRI Indonesia:

Gerakan moral lintas iman yang menghubungkan nilai keagamaan dengan perlindungan hutan hujan tropis. Melalui kolaborasi antara pemimpin agama dan ilmuwan, IRI mendorong perubahan perilaku dan kebijakan demi keadilan iklim dan keberlanjutan hidup generasi mendatang.

Baca Lainnya