Go International! Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo Jadi Jujukan Studi Pejabat Perak Malaysia

yupan
Rabu, 28 Januari 2026 21:39 WIB
Istimewa

 

Sidoarjo, eNews – Masalah sampah boleh jadi isu global, namun solusinya justru lahir dari tingkat rukun tetangga (RT). Inilah yang membawa rombongan pejabat dari Tanjong Malim District Council (MDTM) Perak, Malaysia, jauh-jauh berkunjung ke Kampung Edukasi Sampah, RT 23 RW 07 Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, pada Rabu (28/1/2026).

​Sebanyak 45 pejabat dari Negeri Jiran tersebut hadir untuk mempelajari bagaimana sebuah komunitas setingkat RT mampu mengubah perilaku warga dalam mengelola lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan.

Sambutan Hangat dan Semangat Persaudaraan

​Sekretaris Kelurahan Sekardangan, Ernasukowati, dalam sambutannya menekankan bahwa kesadaran kolektif adalah kunci utama. "Sampah bukan sekadar isu lokal, tapi global. Kunjungan ini kami harap tidak hanya menjadi ajang belajar, tapi juga mempererat persaudaraan dalam menjaga bumi," ujarnya.

​Ketua RT 23, Andi Hariyadi, menambahkan bahwa komitmen warganya adalah memilah sampah langsung dari sumbernya, yakni rumah tangga. "Kami siapkan fasilitasnya, warga yang menjalankan komitmennya," jelas Andi.

Praktik Lapangan: Dari Kompos hingga Tenaga Surya

​Agar pembelajaran lebih efektif, para tamu dibagi menjadi dua kelompok. Mereka didampingi langsung oleh para kader lingkungan yang merupakan warga setempat untuk melihat berbagai inovasi, antara lain:

  • Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL): Pengolahan limbah rumah tangga untuk menyiram tanaman.
  • Metode Pengomposan: Penjelasan mengenai Kompusteraerob dan sistem Takakura.
  • Bank Sampah: Mekanisme pemilahan sampah kering menjadi nilai ekonomis.
  • Teknologi Hijau: Penggunaan Listrik Tenaga Surya untuk penerangan jalan serta budidaya Hidroponik.

​Menariknya, di tengah diskusi yang hangat di bawah terik matahari, para tamu disuguhi hidangan tradisional "Polo Pendem" dan minuman "Wedang Uwuh". Sajian otentik ini sempat membuat para pejabat Malaysia terheran-heran sekaligus terkesan akan keramahan warga.

Pujian dari Negeri Jiran: "Ini Bukan Sekadar Program, Tapi Budaya"

​Wali Kota Tanjong Malim, Shazree Idzham, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi warga RT 23. Menurutnya, jarang ditemukan gerakan lingkungan di tingkat akar rumput yang mampu bertahan lama.

​"Aktivitas peduli lingkungan di sini bukan program sesaat, melainkan sudah menjadi budaya yang hidup dan bertahan untuk berkelanjutan," puji Shazree.

 

​Senada dengan hal tersebut, YB Sandrea Ng Shy Ching, Ketua Komite Perumahan dan Pemerintahan Daerah Negeri Perak, menyatakan kekagumannya atas kesadaran kolektif warga. Ia menegaskan bahwa model dari Sidoarjo ini akan diupayakan untuk diterapkan di Tanjong Malim, Malaysia. "Ini membuka peluang kerjasama lanjutan antar kedua wilayah," tambahnya.

Inspirasi dari Kader Lingkungan

Edy Priyanto, salah satu tokoh pegiat Kampung Edukasi Sampah, mengaku tidak menyangka bahwa gerakan skala RT ini bisa menarik perhatian internasional. "Ini membuktikan bahwa jika dikelola dengan serius, inovasi kecil dari kampung bisa menjadi ruang belajar lintas negara," tuturnya.

​Kunjungan ditutup dengan sesi foto bersama dan pekikan yel-yel penuh semangat: "Indonesia - Malaysia Bisa!", sebagai simbol kolaborasi dua negara dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Lainnya