Menuju Kota Dunia, Surabaya Harus Perkuat Inklusivitas dan Semangat Egaliter "Rek"

yupan
Rabu, 31 Desember 2025 04:23 WIB
Dokumen Pribadi

 

Surabaya, eNews – Menjelang tahun baru 2026, diskursus mengenai masa depan Surabaya sebagai kota global (global city) semakin mengemuka. Namun, di balik kemegahan infrastruktur, tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan kota dalam merawat inklusivitas sosial. Hal ini ditegaskan oleh Sugianto, SH., MH., Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Surabaya sekaligus penggerak Sengkuyung Arek Suroboyo.

​Dalam refleksi pemikirannya, Sugianto menekankan bahwa Surabaya adalah miniatur nyata dari Bhinneka Tunggal Ika. Sejarah panjang kota ini dibentuk oleh pertemuan beragam etnis mulai dari Jawa, Madura, Tionghoa, hingga Arab yang hidup berdampingan tanpa sekat.

Inklusivitas: Nafas Keseharian di Kampung dan Pasar

​Bagi Sugianto, inklusivitas di Surabaya bukan sekadar wacana besar, melainkan praktik sehari-hari. Ia menyoroti bagaimana interaksi di Pasar Turi, Pasar Pabean, hingga warung kopi menjadi bukti nyata di mana perbedaan latar belakang tidak menjadi penghalang untuk saling percaya.

​"Surabaya dikenal sebagai kota egaliter, tempat semua orang dipanggil 'rek' tanpa sekat yang berlebihan. Di pasar tradisional, beragam logat bercampur tanpa canggung. Inilah kekuatan Surabaya," tulisnya.

​Namun, ia juga memberikan peringatan. Laju perubahan zaman dan arus informasi digital mulai menguji nilai kebersamaan ini. Munculnya label, stereotip, dan jarak sosial di ruang digital dikhawatirkan dapat menghambat cita-cita Surabaya menjadi kota dunia jika tidak dikelola dengan bijak.

Standar Kota Dunia Versi PBB

​Mengutip standar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Sugianto menjelaskan bahwa kota masa depan bukan hanya soal kecanggihan teknologi, melainkan kota yang aman, inklusif, dan layak huni bagi semua. Inklusivitas adalah modal pembangunan yang strategis.

​"Kota yang ramah dan terbuka justru lebih menarik bagi investasi, wisatawan, dan talenta global. Sebaliknya, kegagalan mengelola keberagaman berisiko memicu ketegangan sosial," tegasnya.

Dari Retorika Menuju Aksi "Sengkuyung"

​Upaya pemimpin kota melalui gagasan Kampung Madani, Kampung Pancasila, hingga Kampung Gotong Royong dipandang sebagai langkah tepat untuk merancang masa depan. Namun, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kesadaran kolektif warganya.

​Sugianto menekankan pentingnya semangat Sengkuyung—keberanian setiap warga untuk mengambil tanggung jawab atas kebersamaan. "Kesetaraan adalah keharusan. Tidak boleh ada dominasi satu kelompok atas kelompok lainnya. Gotong royong adalah cara kita merawat perbedaan," imbuhnya.

Menjadi Surabaya untuk Semua

​Menutup refleksinya, Sugianto meyakini bahwa Surabaya tidak perlu meniru kota lain untuk diakui dunia. Kekuatan Surabaya justru terletak pada karakter egaliternya yang tetap terjaga.

​"Menjadi kota dunia tidak berarti Surabaya harus kehilangan keberagamannya. Cukup menjadi Surabaya untuk semua: memberi ruang kompetisi yang sehat, menerima realitas dengan etika, dan menjaga kebersamaan," pungkasnya dengan mengutip prinsip sederhana: di depan asyik, di belakang tidak berisik.

Oleh: Sugianto, SH., MH.

(Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Surabaya / Sengkuyung Arek Suroboyo)

Baca Lainnya