Refleksi Ramadhan 2026: Menjadikan Puasa sebagai Obat Penawar "Luka Moral" Bangsa

yupan
Selasa, 17 Februari 2026 23:52 WIB
Dokumen Pribadi

 

Surabaya, eNews – Kehadiran bulan suci Ramadhan 1447 H / 2026 M menjadi momentum krusial bagi bangsa Indonesia untuk melakukan evaluasi mendalam. Di tengah megahnya pembangunan fisik tempat ibadah, realita sosial justru menunjukkan gejala "degradasi moral" yang mengkhawatirkan. Fenomena ini memicu perlunya gerakan Tajdid (pembaharuan) yang menyentuh akar spiritual dan sosial masyarakat.

​Ketua Majelis Tabligh PDM Surabaya sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya, Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I, menegaskan bahwa Ramadhan tahun ini harus menjadi titik balik dari sekadar "kesalehan formalistik" menuju transformasi perilaku yang hakiki.

​"Agama jangan hanya menjadi pakaian identitas, tetapi harus menjadi kompas perilaku. Kita melihat angka korupsi tetap tinggi dan etika digital kian liar, padahal mayoritas menjalankan ritual puasa. Ini tanda ada ruh yang hilang dari ibadah kita," ujarnya.

 

Tiga Pilar Tajdid: Aqidah, Mental, dan Sosial

​Untuk memulihkan luka moral tersebut, Imam Sapari menawarkan tiga langkah pembaharuan mendasar, diantaranya;

  1. Tajdid Aqidah: Mengembalikan esensi tauhid dengan menjauhkan diri dari "berhala modern" seperti materialisme, hedonisme, dan pemujaan jabatan. Puasa harus mampu membentuk karakter Khaira Ummah (umat terbaik) yang jujur dalam berbisnis dan profesional dalam bekerja.
  2. Tajdid Mental: Menghadapi era disrupsi, Ramadhan menjadi momentum untuk "Puasa Digital." Hal ini bertujuan menekan angka hoaks dan cyber-bullying melalui penguatan budaya Tabayyun (verifikasi informasi).
  3. Tajdid Sosial: Menggerakkan spirit Al-Ma’un untuk melawan budaya israf (berlebihan). Di tengah fluktuasi harga pangan, filantropi strategis melalui lembaga seperti Lazismu harus dikuatkan guna memastikan akses pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.

Sinergi Lima Elemen Strategis

​Pemulihan moral bangsa tidak bisa dilakukan secara parsial. Imam menekankan perlunya kolaborasi dari lima pilar utama masyarakat:

  • Pemerintah: Menjaga stabilitas harga pangan dan meregulasi ekosistem digital yang sehat.
  • Ulama: Menggeser dakwah dari sekadar fikih ritual menuju literasi akhlak sosial dan digital.
  • Aghniya (Orang Kaya): Mengalihkan gaya hidup mewah menjadi kedermawanan yang memberdayakan.
  • Pendidik: Mengintegrasikan nilai iman dan ilmu untuk membentengi generasi muda.
  • Orang Tua: Menjadi "madrasah pertama" yang menanamkan kejujuran dan mendampingi anak dalam berteknologi.

Garis Start Perubahan

​Menutup refleksinya, Imam Sapari mengajak seluruh elemen umat untuk menjadikan malam-malam Ramadhan sebagai garis start pemulihan total.

​"Kita tidak boleh membiarkan ritual kita melemah sementara moral luruh tergerus zaman. Ramadhan 2026 harus melahirkan pribadi yang bukan hanya shalih secara individu, tetapi juga menjadi penggerak kemajuan peradaban," pungkasnya.

​Dengan sinergi antara ulama yang mencerahkan dan pemerintah yang adil, diharapkan Ramadhan kali ini benar-benar menjadi momentum transformasi sosial yang nyata bagi Indonesia.

Baca Lainnya