Saat Diet Viral Bisa Membunuhmu Pelan-Pelan, Mengapa Kita Masih Percaya Influencer Ketimbang Ahli Gizi?
yupan
Selasa, 9 Desember 2025 17:16 WIB
Oleh: Azzahra Aprilia, Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga 2025 (@zzhliaa_)
Seorang ibu muda di Jakarta, sebut saja Rina (32), harus dilarikan ke IGD karena kadar elektrolitnya anjlok drastis setelah tujuh hari penuh menjalani "Diet Detoks Jus Warna-Warni" yang ia tonton di TikTok. Rina, yang hanya ingin berat badannya turun 5 kg sebelum Idulfitri, mengabaikan rasa lemas, pusing, dan kram perut hebat. Yang lebih menyedihkan, ahli gizi yang kemudian merawatnya menemukan bahwa ginjal Rina menunjukkan tanda-tanda kelelahan parah.
Ini bukan kisah fiksi. Ini adalah wajah buram dari realitas gizi kita di tahun 2025: sebuah kondisi yang disebut Infodemi Gizi Digital. Jika dulu kita berjuang melawan kurang gizi, kini kita berperang melawan kelebihan informasi—banyak di antaranya menyesatkan, berbahaya, dan disajikan secara sangat meyakinkan oleh orang-orang tanpa kompetensi.
Infodemi Gizi Digital adalah banjir informasi gizi yang luar biasa di platform-platform digital.
Mulai dari video 15 detik tentang "makanan super" yang menyembuhkan semua penyakit, suplemen ajaib yang membuat kulit seputih pualam, hingga panduan diet ekstrem yang menjanjikan tubuh model dalam seminggu. Ironisnya, di tengah gencarnya pemerintah berjuang menurunkan angka stunting (yang menunjukkan tren positif, turun menjadi 19,8% pada Survei Status Gizi Indonesia/SSGI 2024), kita kini menghadapi tantangan baru: jutaan orang dewasa dan remaja Indonesia yang secara aktif merusak kesehatan mereka sendiri karena mengikuti panduan gizi digital yang salah.
Badai Hoaks Gizi di Layar Genggam
Bisa dibilang, media sosial—terutama TikTok dan Instagram—telah menjadi ruang tunggu poliklinik gizi yang paling ramai, bahkan lebih ramai dari Puskesmas. Setiap hari, ribuan unggahan baru menawarkan solusi cepat untuk masalah kesehatan kompleks.
Ambil contoh tren "diet karbo nol" yang kembali populer di kalangan remaja awal 2025. Tanpa pemahaman tentang fisiologi tubuh, banyak yang memotong total sumber karbohidrat, menggantinya dengan asupan protein dan lemak berlebihan.
Akibatnya? Bukan hanya kelelahan, tapi juga ketidakseimbangan mikronutrien hingga risiko jangka panjang pada ginjal dan hati.
Data menunjukkan betapa rentannya masyarakat kita
Studi literatur terkait komunikasi gizi di platform digital menemukan bahwa meski media sosial memiliki potensi besar untuk edukasi, ia juga menjadi ladang subur mis informasi.
Hoax yang mencatut nama profesional gizi, seperti kasus obat pelangsing yang mengatasnamakan Profesor Gizi IPB (Klarifikasi Kominfo 2023), terus berulang. Ada pula hoaks tentang pantangan kombinasi makanan, atau klaim makanan tunggal yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan tubuh.
Mengutip Dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, seorang spesialis gizi klinis, beliau menekankan bahwa "Tidak ada satupun makanan yang super, mengandung semua zat gizi." Oleh karena itu, beliau menganjurkan, "Variasikan makanan, dan konsumsi sesuai kebutuhan makronutrien dan mikronutrien kita." Sayangnya, pesan ilmiah yang penting ini sering tenggelam di bawah daya pikat narasi tunggal yang dramatis.
Duel Narasi: Ilmiah yang Kering vs Testimoni yang Dramatis
Mengapa masyarakat lebih mudah percaya pada food vlogger non-berlisensi atau influencer kebugaran yang hanya bermodal penampilan menarik? Jawabannya terletak pada cara narasi disajikan.
Di satu sisi, kita punya Influencer Non-Profesional (INP). Mereka menawarkan:
● Emosi dan Empati Semu: Kisah perjuangan dramatis, before-after yang mencolok (sering kali dimanipulasi), dan testimoni yang menyentuh perasaan. Pesan mereka berbunyi, "Saya sudah merasakan sakit Anda, dan inilah solusi cepat yang berhasil untuk saya."
● Bahasa yang Sederhana dan Personal: Menggunakan istilah populer dan menghindari kerumitan biokimia, langsung menyentuh keinginan dasar: kurus, cantik, sehat tanpa usaha keras.
● Visual yang Adiktif: Konten yang cepat, snackable, berupa reels musik energik, cocok dengan algoritma media sosial yang memprioritaskan engagement.
Di sisi lain, ada Ahli Gizi Profesional (AGP). Mereka cenderung menawarkan:
● Fakta dan Bukti Ilmiah: Menggunakan jurnal, panduan klinis, dan mereferensikan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Pesan mereka berbunyi, "Kebutuhan Anda bersifat individual dan harus disesuaikan berdasarkan data klinis."
● Bahasa Teknis yang Kaku: Meskipun akurat, penyampaian yang terlalu berhati-hati, penuh istilah seperti "indeks glikemik," "asam amino esensial," atau "densitas energi," sering terasa menggurui dan sulit dipahami publik awam.
● Konten yang Kurang Menarik: Postingan berupa teks panjang, infografis standar, atau seminar daring yang kurang interaktif.
Jelas, dalam pertempuran algoritma yang menuntut kecepatan dan emosi, pendekatan ilmiah yang "kering" sering kalah telak dari gimmick yang dramatis.
Ahli Gizi: Penjaga Gerbang Informasi yang Harus Turun ke Arena
Untuk memenangkan perang melawan Infodemi Gizi Digital, para ahli gizi tidak bisa lagi hanya berdiam diri di klinik atau bangku akademisi. Mereka harus turun ke arena—yaitu media sosial itu sendiri—dengan strategi komunikasi yang jauh lebih efektif dan persuasif.
Ahli gizi adalah penjaga gerbang informasi yang kredibel, tetapi gerbang itu kini harus dibuka lebar-lebar dengan cara yang menarik.
Strategi komunikasi publik yang efektif bagi ahli gizi di era digital harus mencakup:
1. Mengubah Science Menjadi Story telling: Tidak cukup hanya mengatakan, "Serat itu penting." Ahli gizi harus menunjukkan mengapa serat penting melalui visualisasi yang menarik atau metafora sederhana. Misalnya, membuat reels tentang "Bagaimana Serat Menjebak Gula di Usus Anda" dengan animasi yang lucu.
2. Berbicara dengan Bahasa Rakyat, Bukan Bahasa Jurnal: Ganti "Terapkan prinsip gizi seimbang sesuai pedoman Tumpeng Gizi" menjadi "Piringmu Berwarna Apa Hari Ini? Yuk, Cek 5 Jari Sehatmu." Penggunaan Bahasa Indonesia yang sederhana, jelas, dan kontekstual terbukti dapat meningkatkan efektivitas pesan kesehatan (Jurnal Pendidikan Integratif, 2024).
3. Konsisten dan Kolaboratif: Ahli gizi harus konsisten muncul, bahkan jika views awal masih rendah. Kolaborasi antar-ahli gizi, atau bahkan dengan influencer lain yang kredibel (health influencer berbasis data, bukan sekadar gaya hidup), dapat memperluas jangkauan dan memperkuat pesan kolektif.
4. Selalu Sertakan Referensi Ilmiah: Kredibilitas adalah mata uang utama ahli gizi. Setiap klaim, bahkan dalam caption pendek, harus didukung oleh referensi yang jelas (misalnya: "Berdasarkan pedoman WHO/Kemenkes").
Kekuatan Komunikasi Terapeutik: Mengobati Luka Akibat Hoaks
Peran terbesar ahli gizi di era Info demi justru terjadi di ruang konsultasi. Ketika seorang pasien sudah datang dengan kondisi kesehatan yang memburuk—entah karena diabetesnya melonjak karena "detoks jus" atau anemia karena diet vegan ekstrem—ahli gizi harus menjadi penyembuh gizi dan mental.
Inilah saatnya Komunikasi Terapeutik menjadi "obat pertama yang tak tertulis di resep dokter."
Pasien yang telah termakan hoaks sering kali tidak hanya butuh koreksi data, tapi juga pemulihan kepercayaan diri dan kenyamanan emosional.
Penerapan komunikasi terapeutik harus melalui tahap-tahap krusial:
1. Mendengarkan Aktif (Active Listening) dan Empati: Biarkan pasien menceritakan semua hal yang ia yakini atau lakukan (termasuk diet viral nya) tanpa disela. Tunjukkan bahwa Anda memahami kekhawatiran dan tujuan mereka, meskipun metodenya salah.
2. Validasi, Bukan Penghakiman (Non-Judgmental): Hindari kalimat, "Anda salah besar mengikuti diet konyol itu." Ganti dengan, "Saya mengerti keinginan Anda untuk (misalnya) menurunkan berat badan dengan cepat. Informasi yang Anda dapatkan di internet memang terdengar sangat menjanjikan, dan niat Anda baik."
3. Koreksi Bertahap dengan Bukti yang Dipersonalisasi: Setelah kepercayaan terbangun, baru berikan koreksi. Gunakan data klinis pasien sendiri (hasil lab, riwayat penyakit) sebagai "bukti" yang lebih kuat daripada testimoni influencer. Contoh: "Hasil lab gula darah Anda menunjukkan bahwa tubuh Anda sangat membutuhkan karbohidrat kompleks. Mari kita lihat, mengapa detoks kemarin justru membuat Anda lemas dan pusing"
Pendekatan ini—yang melibatkan empati, mendengarkan aktif, dan kehadiran emosional—adalah kunci untuk membangun kepercayaan, yang sangat esensial dalam keberhasilan Terapi Gizi Medis (TGM). Ahli gizi harus menjadi mercusuar yang memancarkan informasi gizi yang tenang, akurat, dan penuh kasih di tengah badai digital.
Saatnya Ahli Gizi Berteriak Lebih Keras
Info demi Gizi Digital adalah realitas yang harus kita hadapi. Ia tidak akan hilang, sebaliknya akan semakin canggih dan persuasif. Hoaks gizi akan terus berevolusi, mencatut tren terbaru, dari "diet puasa ekstrim" hingga "suplemen biohacking" dengan klaim yang bombastis.
Kini, nasib literasi gizi masyarakat Indonesia ada di tangan para ahli gizi muda. Sudah saatnya Anda menjadi lebih vokal, lebih kreatif, dan lebih manusiawi di ruang digital. Angkat ponsel Anda, nyalakan kamera, dan berikan informasi gizi yang kredibel dengan senyum dan narasi yang hangat.
Jangan biarkan konten before-after palsu mengalahkan kekuatan data ilmiah. Jangan biarkan gimmick sesaat mengalahkan edukasi gizi yang menyelamatkan nyawa. Dengan bekal keilmuan yang kuat dan dilengkapi dengan senjata komunikasi terapeutik yang penuh empati, para ahli gizi profesional Indonesia pasti bisa mengalahkan info demi.
Mari bersama-sama, kita jadikan suara gizi yang benar menjadi suara yang paling viral!
Referensi :
1. Halodoc. (2023). Kenali dampak konsumsi makanan rendah karbohidrat. https://www.halodoc.com/artikel/kenali-dampak-konsumsi-makanan-rendah-karbohidrat
2. Hermawan, A. S. P., Margawati, A., & Syauqy, A. (2025). Metode evaluasi kredibilitas, kualitas, serta akurasi konten edukasi gizi di media sosial: Literature review. Journal of Nutrition College, 14(4), 344–351. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/article/view/48107
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, Mei 26). SSGI 2024: Prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%. https://kemkes.go.id/id/ssgi-2024-prevalensi-stunting-nasional-turun-menjadi-198
4. Kuncoro, F. D. (2025). Hubungan komunikasi terapeutik dengan kepatuhan diet pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Duduksampeyan. Community Health Care, 8(2), 1-10. https://journal.univgresik.ac.id/index.php/chc/article/view/201
5. Liputan6. (2024, 13 Mei). Jangan tergiur jus detox, ini 3 bahayanya yang perlu kamu waspadai. https://www.liputan6.com/health/read/5595511/jangan-tergiur-jus-detox-ini-3-bahayanya-yang-perlu-kamu-waspada
6. Nugraheni, S., & tim. (2025). Pengaruh bahasa Indonesia dalam memberikan edukasi kesehatan. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(1), 1-12. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/24315
7. Prabawangi, R. P., & Fatanti, M. N. (2024). Peran media daring dalam amplifikasi misinformasi kesehatan di era pandemi Covid-19. Jurnal Komunikasi UII. https://journal.uii.ac.id/jurnal-komunikasi/article/download/21480/14998/87406
8. Pratama, S. M., & tim. (2024). Pemanfaatan pengetahuan media sosial (online) untuk edukasi gizi remaja. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 12(2), 45-56. https://ejournal.unimman.ac.id/index.php/jka/article/download/654/565/1988
9. Surapsari, J. (n.d.). Dokter tegaskan tak ada makanan yang mengandung semua gizi. Republika. https://republika.co.id/amp/ou9lz9328/dokter-tegaskan-tak-ada-makanan-yang-mengandung-semua-gizi
10. Tips Harian. (2025, 25 September). Diet rendah karbo: Tren kesehatan 2025. https://tipsharian.id/diet-rendah-karbo-2025/
11. Tirto.id. (2023, Juli 15). Hoaks obat pelangsing yang mencatut nama profesor gizi IPB. https://tirto.id/hoaks-obat-pelangsing-yang-mencatut-nama-profesor-gizi-ipb-gNWN
12. Uma.ac.id. (2024). Inovasi terbaru dalam teknologi kesehatan: Dari telemedicine hingga biohacking. https://p2dpt.uma.ac.id/2024/06/25/inovasi-terbaru-dalam-teknologi-kesehatan-dari-telemedicine-hingga-biohacking/
13. World Health Organization. (2020). Managing the COVID-19 infodemic: Promoting healthy behaviours and mitigating the harm from misinformation and disinformation. https://www.who.int/news/item/23-09-2020-managing-the-covid-19-infodemic-promoting-healthy-behaviours-and-mitigating-the-harm-from-misinformation-and-disinformation
Baca Lainnya
Dinkes Provinsi dan Kota Gorontalo Validasi Data KRIS di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 6 Jam
Tingkatkan Kualitas Hidup Prajurit, Kodim 0724/Boyolali dan Dinkes Sosialisasi Bahaya Penyakit Jantung
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 24 Hari
SD Muhammadiyah 26 Bekali Siswa dengan Edukasi Kesehatan Reproduksi untuk Hadapi Pubertas
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Bulan
Danramil Gemolong Meriahkan KB Khanza Kids, Dorong Pemahaman Keluarga Berencana Sejak Dini
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Bulan
Peringati Hari Juang TNI AD ke-80, Kodim 0724/Boyolali Gelar Donor Darah Penuh Antusiasme
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Bulan
Babinsa Koramil Mondokan Dampingi Warga Dapatkan Layanan Dokter Spesialis Keliling di Balai Desa Sumberejo
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Bulan
Duduk Diam, Risiko Tinggi: Mengungkap Dampak Gaya Hidup Sedentary pada Kesehatan Masyarakat
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Bulan
Pelindo Husada Citra Tingkatkan Kesehatan Masyarakat Sekitar Operasional Lewat Program PHC Peduli
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Bulan
Dukungan Komunitas dan Tiga Pilar Strategis, Upaya Dinkes Jatim Tekan Kasus TBC Tertinggi di Surabaya
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Bulan
