Darurat Organisasi, Kiai se-Jabar dan DKI Jakarta Desak Rais Aam Percepat Muktamar NU

yupan
Rabu, 21 Januari 2026 22:16 WIB
Istimewa

 

Cirebon, eNews – Gejolak di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin meruncing. Forum Bahtsul Masail yang diikuti oleh puluhan kiai muda dan pengasuh pesantren se-Jawa Barat dan DKI Jakarta secara resmi merekomendasikan percepatan Muktamar ke-35 NU.

​Pertemuan yang digelar di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jumat (16/1/2026) ini merumuskan landasan keagamaan kuat sebagai dasar desakan tersebut. Para kiai menilai langkah ini bukan sekadar urusan jabatan, melainkan upaya darurat untuk menyelamatkan jam'iyyah dari kerusakan organisasi yang semakin meluas.

​Ikhtiar Menolak Kerusakan (Dar’u al-Mafasid)

​Pengasuh Pondok Pesantren Kempek, KH. Muhammad Shofi bin Mustofa Aqiel, menegaskan bahwa PBNU saat ini berada dalam kondisi yang tidak sehat. Menurutnya, percepatan muktamar adalah jalan syar'i untuk menghentikan berbagai mafsadat (kerusakan).

​"Percepatan muktamar ini adalah ikhtiar untuk dar’u al-mafasid, menolak kerusakan yang sudah nyata dan terus berlangsung di tubuh PBNU," tegas Kiai Shofi di hadapan para tokoh seperti KH. Ahmad Ashif Shofiyullah, KH. Abdul Muiz Syaerozi, dan jajaran kiai lainnya.

​Lima Alasan Krusial Percepatan Muktamar

​Dalam forum tersebut, para kiai merumuskan lima poin utama yang menjadi dasar hilangnya legitimasi kepemimpinan PBNU saat ini:

  1. Ketidakefektifan Kepemimpinan: Pemecatan Gus Yahya oleh Rais Aam secara tidak terhormat karena tuduhan tata kelola keuangan yang menyalahi syariat, serta isu keterlibatan dengan jaringan internasional yang kontroversial.
  2. Dualisme Kepemimpinan: Munculnya klaim sah secara hukum antara Pj Ketum PBNU KH. Zulfa Musthofa dengan Gus Yahya yang masih mengklaim posisinya. Kondisi ini dinilai membahayakan keberlangsungan organisasi.
  3. Polarisasi Warga NU: Terjadinya keterbelahan sosial dan ketegangan di akar rumput hingga media sosial. Sesuai kaidah fikih, keluar dari perselisihan (al-khuruj min al-khilaf) hukumnya adalah anjuran.
  4. Hilangnya Legitimasi: Kepengurusan saat ini dianggap sudah kehilangan marwah moral, spiritual, dan sosial di mata umat.
  5. Kebutuhan Reset Organisasi: PBNU dinilai perlu dibersihkan dari unsur-unsur yang menyimpang dari amanat muktamar sebelumnya.

​Mendesak Rais Aam Bertindak Tegas

​Para kiai mendorong Rais Aam sebagai pimpinan tertinggi untuk segera mengambil langkah konstitusional. "Kami mendorong Rais Aam untuk segera menggelar muktamar luar biasa atau percepatan muktamar agar NU bisa segera melakukan reset organisasi dan kembali ke khittahnya," ujar Kiai Shofi.

​Forum Bahtsul Masail Kempek juga merumuskan kriteria pemimpin masa depan NU yang diharapkan. Sosok tersebut haruslah ulama yang faqih (berilmu luas), berakhlak, zuhud, serta tidak memiliki ambisi duniawi maupun jabatan (hubbu al-dunya dan hubbu al-jah).

​Menuju Pembersihan Organisasi

​Muktamar dianggap sebagai satu-satunya jalan bermartabat untuk mengembalikan NU sebagai khadim al-ummah (pelayan umat), bukan sekadar alat kekuasaan.

​"Muktamar adalah momentum untuk membersihkan PBNU dari unsur-unsur yang menyimpang. Dengan ini, NU bisa kembali dipimpin oleh ulama yang kredibel dan berintegritas," pungkas Kiai Shofi.

Baca Lainnya