Gagal Puasa Sebelum Maghrib: Menjual Akhlak Demi Konten dan Nongkrong Malam
yupan
Jumat, 20 Februari 2026 03:58 WIB
Surabaya, eNews – Bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi "madrasah ruhani" untuk menyucikan jiwa kini menghadapi tantangan serius. Sebuah fenomena paradoks tengah melanda generasi muda muslim: raga mereka menahan lapar dan haus, namun adab serta jempol mereka tetap "berpesta" dalam kemaksiatan di dunia maya.
Kekhawatiran ini disampaikan secara tajam oleh Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I, Ketua Majelis Tabligh PDM sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya. Beliau menyoroti adanya "jurang digital" (Digital Abyss) yang membuat kualitas puasa remaja merosot hingga ke titik nadir.
Tragedi Digital: Fitnah AI dan Dosa Jariyah
Imam Sapari mengungkapkan bahwa teknologi masa kini, seperti Artificial Intelligence (AI), sering kali disalahgunakan untuk menciptakan konten deepfake atau manipulatif yang menjatuhkan martabat orang lain.
"Jempol yang sibuk menebar fitnah digital adalah bukti kegagalan puasa lisan," tegasnya. Ia menyitir hadits Rasulullah ﷺ mengenai banyaknya orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa pun kecuali rasa lapar, karena gagal menjaga adab di balik layar ponsel.
Festival Sosial yang Melalaikan
Selain ancaman digital, realitas di dunia nyata juga tak kalah memprihatinkan. Ramadhan kini sering kali bergeser fungsinya menjadi sekadar festival sosial.
- Nongkrong Berlebih: Budaya nyangkruk di angkringan yang melalaikan waktu shalat Tarawih.
- Euforia Berbahaya: Aksi perang sarung dan balap liar yang mengancam nyawa.
- Penyimpangan Bukber: Acara Buka Bersama yang berubah menjadi majelis ghibah, bahkan pemicu perselingkuhan dan zina.
Tiga Bahaya Laten Jika Dibiarkan
Menurut Imam Sapari, jika fenomena ini terus berlanjut, bangsa Indonesia sedang mempertaruhkan masa depannya pada tiga risiko besar:
- Normalisasi Dosa: Remaja menganggap maksiat digital lumrah asalkan tetap berpuasa secara fisik, menciptakan generasi munafik spiritual.
- Degradasi Empati: Cyber-bullying mematikan rasa kemanusiaan, melahirkan pribadi yang gemar berkonflik.
- Generasi 'Atheis Perilaku': Memiliki generasi yang mahir teknologi namun kosong dari nilai-nilai ketuhanan.
Sinergi Kolektif: Menuju 'Tobat Digital'
Guna membendung arus degradasi moral ini, Imam Sapari mengusulkan empat langkah strategis:
- Orang Tua: Menjadi benteng utama dengan prinsip Muraqabah (merasa diawasi Allah) dan memberikan teladan dalam bermedia sosial.
- Sekolah: Mengintegrasikan kurikulum "Fikih Digital" untuk mengajarkan bahaya dosa jariyah di dunia maya.
- Tokoh Agama: Berdakwah secara inklusif dengan masuk ke platform media sosial remaja (TikTok/Reels) menggunakan bahasa yang relevan bagi Gen Z.
- Pemerintah: Memperketat patroli siber terhadap konten vulgar selama Ramadhan serta menyediakan ruang publik positif bagi pemuda.
Kesimpulan: Momentum Detoks Adab
Menutup ulasannya, Imam Sapari mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan sisa Ramadhan tahun ini sebagai momentum "Detoks Adab".
"Jangan sampai Ramadhan hanya menjadi ritual perpindahan jam makan, sementara akhlak kita tetap jalan di tempat atau justru merosot ke jurang kebatilan," pungkasnya.
Baca Lainnya
Sholeh di Sajadah, Salah di Sosial Media: Menakar Ketulusan Taqwa di Era Digital
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Hari
Refleksi Ramadhan 2026: Menjadikan Puasa sebagai Obat Penawar "Luka Moral" Bangsa
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 2 Hari
Menyulam Harmoni di Balik Perbedaan Awal Ramadhan: Kedewasaan Umat dalam Bingkai Ukhuwah
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 3 Hari
Sambut Gerakan Indonesia ASRI: Ubah "Bom" Sampah Menjadi Warisan Keindahan
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 7 Hari
Dua Wajah Kepemimpinan Surabaya: Memeluk yang Rapuh, Menopang yang Jatuh
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 9 Hari
Tragedi NTT dan Matinya Kemanusiaan di Dunia Pendidikan
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 14 Hari
Pakar Hukum Soroti Kekeliruan Penanganan Kasus di Polres Sleman: Pentingnya Penguasaan KUHP Baru
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 21 Hari
Sikap Kapolri Tolak Jabatan Menteri Kepolisian Dinilai Tepat dan Konstitusional
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 23 Hari
Dermawan, Sabar, dan Mudah Memaafkan adalah Ciri Orang Bertaqwa
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 24 Hari
