Jurnalis Cilik SDM 29 Surabaya Belajar Tangkal Hoax: Lindungi Anak dari "Jebakan Batman" Digital

yupan
Rabu, 28 Januari 2026 15:33 WIB
Kegiatan jurnalistik SD Muhammadiyah 29 Surabaya. (Istimewa)

Surabaya, eNews - ​Di tengah derasnya arus informasi digital, jurnalis cilik SD Muhammadiyah 29 Surabaya melakukan langkah edukatif pada Rabu (28/1/2026). Didampingi pembina jurnalistik, Ustadz Yuda, para siswa diajak menyelami dunia literasi untuk memahami bahaya laten informasi bohong atau hoax yang kini menyasar anak-anak usia sekolah.

Realita Gadget dan Minimnya Filter

​Faktanya, anak-anak usia sekolah dasar saat ini sudah sangat akrab dengan gawai, namun kemampuan mereka dalam membedakan fakta dengan berita "gorengan" (hoax) belum sepenuhnya matang. Ketidakmampuan memfilter informasi ini bukan sekadar masalah salah paham, melainkan ancaman nyata bagi perkembangan mental dan sosial anak.


Istimewa

5 Risiko Utama Hoax bagi Siswa SD

​Dalam sesi belajar tersebut, diungkapkan lima dampak berbahaya hoax yang perlu diwaspadai:
Pertama, ​Ketakutan dan Kecemasan: Berita bombastis tentang penculikan atau bencana fiktif dapat memicu trauma, gangguan tidur, hingga rasa takut ke sekolah.
Kedua, ​Pola Pikir yang Salah: Paparan informasi palsu yang terus-menerus mengganggu pembentukan logika dan fondasi pengetahuan anak.
Ketiga, ​Pemicu Perundungan (Bullying): Anak-anak cenderung ikut mengucilkan teman berdasarkan fitnah atau berita bohong di grup media sosial.
Keempat, ​Keamanan Fisik: Challenge (tantangan) berbahaya atau tips kesehatan palsu di dunia maya dapat berakibat fatal jika dicoba tanpa pengawasan.
Kelima, ​Krisis Kepercayaan: Terlalu banyak terpapar kebohongan membuat anak meragukan otoritas seperti orang tua, guru, dan informasi resmi.

Menjadi "Detektif" Informasi

​Edukasi ini menggunakan pendekatan sederhana agar mudah diterima siswa. Hoax dianalogikan sebagai "jebakan batman"—cerita bohong yang berpura-pura menjadi benar agar orang lain merasa takut atau marah. Para siswa diajarkan untuk berperan sebagai "detektif" yang selalu melakukan kroscek kepada guru atau orang tua sebelum mempercayai sebuah berita.

Langkah Nyata bagi Orang Tua

​Ustadz Yuda juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak di era digital, di antaranya:
Pertama, ​Validasi Perasaan: Mendengarkan ketakutan anak tanpa memarahi dan meluruskannya dengan fakta.
Kedua, ​Ajarkan Cek Sumber: Melatih anak untuk tidak langsung membagikan (share) pesan sebelum bertanya pada orang dewasa.
Ketiga, ​Dampingi Penggunaan Gadget: Memastikan konten sesuai umur dan memanfaatkan fitur Parental Control.

​Melalui kegiatan ini, jurnalis cilik SDM 29 Surabaya diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menyebarkan konten positif serta membentengi diri dan teman sejawat dari pengaruh buruk informasi palsu.

Baca Lainnya