Waspada "Jebakan Batman" Digital: Jurnalis Cilik MIM 27 Surabaya Bedah Bahaya Hoax
yupan
Sabtu, 31 Januari 2026 04:45 WIB
Surabaya, eNews – Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan menyaring berita menjadi keterampilan krusial yang harus dimiliki sejak dini. Hal inilah yang mendasari kegiatan edukasi para jurnalis cilik MI Muhammadiyah 27 (MIMDATU) Surabaya pada Jumat (30/1/2026).
Bersama pembina ekstrakurikuler jurnalistik, Ustadz Yuda, para siswa diajak mengulas tuntas bahaya berita bohong atau hoax yang kerap mengintai pengguna gadget usia sekolah dasar.
Anak Sekolah Dasar: Sasaran Empuk Informasi "Gorengan"
Ustadz Yuda menekankan bahwa kedekatan anak-anak dengan gadget saat ini tidak dibarengi dengan kematangan emosional untuk membedakan fakta dan opini yang dilebih-lebihkan (gorengan).
"Hoax bukan sekadar informasi salah, tetapi dampaknya nyata bagi mental dan perkembangan sosial anak," ungkapnya.
5 Risiko Utama Hoax bagi Siswa
Dalam paparannya, Ustadz Yuda merinci lima bahaya utama yang perlu diwaspadai oleh orang tua dan guru:
- Kecemasan Berlebih: Berita bombastis soal penculikan atau bencana alam buatan bisa memicu trauma dan rasa takut ke sekolah.
- Pola Pikir Keliru: Paparan informasi palsu yang terus-menerus merusak fondasi logika anak yang sedang berkembang.
- Pemicu Perundungan (Bullying): Anak-anak berisiko ikut mengucilkan teman berdasarkan kabar bohong yang beredar di grup chat.
- Keamanan Fisik: Munculnya challenge berbahaya di media sosial yang mengancam keselamatan jika ditiru tanpa pengawasan.
- Krisis Kepercayaan: Anak mulai meragukan otoritas seperti guru dan orang tua karena bingung menentukan sumber kebenaran.
Menjadi "Detektif" Informasi
Untuk memudahkan pemahaman, Ustadz Yuda menggunakan analogi yang akrab di telinga anak-anak. Ia mengibaratkan hoax sebagai "Jebakan Batman"—sebuah cerita bohong yang menyamar agar orang merasa takut atau marah.
"Sebelum percaya, kalian harus jadi detektif dulu. Caranya sederhana: tanya ke Mama, Papa, atau Guru apakah berita itu benar atau cuma karangan," pesan Ustadz Yuda kepada para jurnalis cilik.
Langkah Proteksi bagi Orang Tua
Kegiatan ini juga merumuskan langkah praktis bagi pendamping di rumah. Mulai dari melakukan validasi perasaan saat anak merasa takut, mengajarkan cek sumber sebelum menekan tombol share, hingga memaksimalkan fitur Parental Control pada perangkat komunikasi anak.
Melalui ulasan ini, jurnalis cilik MIM 27 Surabaya diharapkan menjadi pelopor literasi digital bagi teman sebaya mereka, agar tidak mudah terjebak dalam pusaran informasi palsu di dunia maya.
Baca Lainnya
Asah Skill Kehidupan, Siswa SD Mudalan Surabaya Mulai Akrab dengan Dunia Jurnalistik
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 8 Jam
Keseruan Belajar Kelompok: Cara Jurnalis Cilik MIM 28 Surabaya Tuntaskan Tugas
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 6 Hari
Jurnalis Cilik SDM 29 Surabaya Belajar Tangkal Hoax: Lindungi Anak dari "Jebakan Batman" Digital
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 7 Hari
Aksi Jurnalis Cilik SDM 22 Surabaya: Mengupas Bahaya "Jebakan Batman" Hoax di Era Digital
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 8 Hari
Jurnalis Cilik MIM 25 Surabaya Gali Inspirasi dari Sanggar Tari Gito Maron
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 11 Hari
Cerita Empat Jurnalis Cilik: Kisah Seru di Balik Sulitnya Membangun Kemah Persahabatan MIM Dupan
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 13 Hari
Pengalaman Seru Rasya Ahmad Rayakan Isra Mikraj Pertama di MIM 28 Surabaya
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 13 Hari
Pengalaman Seru Lomba Nasyid Isra Mikraj: Zayana Aurora Tetap Ceria Meski Belum Juara
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 13 Hari
Jurnalis Cilik SDM 29 Surabaya Gali Inspirasi: Mengenal Lebih Dekat Ustadzah Aziska dan Harapannya untuk Siswa
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 14 Hari
