Sambut Ramadhan, Masjid Faqih Oesman UMG Bedah Strategi Menjadi "Juara" di Bulan Mulia

yupan
Jumat, 13 Februari 2026 22:34 WIB
Istimewa

 

Gresik, eNews – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, Masjid Faqih Oesman Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) menggelar Kajian Subuh spesial bertajuk "Strategi Menjadi Juara di Bulan Mulia". Acara yang berlangsung pada Sabtu (07/02/2026) ini menghadirkan Najib Sulhan, Ketua PCM Mulyorejo Surabaya, sebagai narasumber utama.

​Lebih dari 100 jamaah memadati ruang utama masjid, menyimak paparan materi yang menekankan pentingnya perencanaan matang sebelum memasuki gerbang Ramadhan agar ibadah tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan.

Pentingnya Perencanaan: Refleksi Surat Al-Hasyr Ayat 18

​Dalam tausiyahnya, Najib Sulhan mengawali dengan mengupas keindahan Surat Al-Hasyr ayat 18. Ia menyoroti bagaimana ayat tersebut dibuka dan ditutup dengan seruan takwa, sementara di bagian tengahnya terdapat perintah tegas untuk melakukan perencanaan (evaluasi) demi hari esok.

​"Wahai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah! Dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat)..."

 

​"Ayat ini mengajak kita yang beriman untuk selalu membuat perencanaan. Kehidupan akhirat yang abadi menuntut persiapan yang serius di dunia yang fana ini," ujarnya.

Menyusun "Kurikulum" Ramadhan

​Merujuk pada syariat puasa dalam Surat Al-Baqarah ayat 183-187, Najib mendorong setiap Muslim untuk memiliki "kurikulum" pribadi selama bulan Ramadhan. Kurikulum ini dibagi menjadi dua pilar utama:

  • Ketaqwaan Personal (Ayat 183-184): Fokus pada hubungan vertikal dengan Allah melalui ibadah yang bersifat "sunyi" dan penuh keikhlasan, seperti shalat, tadarus Al-Qur'an, dan puasa itu sendiri.
  • Ketaqwaan Sosial: Membangun simpati dan empati melalui aksi nyata yang meringankan beban sesama, seperti zakat, sedekah, santunan anak yatim, hingga berbagi ta’jil.

​Selain itu, ia menekankan bahwa Surat Al-Baqarah ayat 185 mengajarkan kesadaran untuk bersyukur. "Bisa bertemu kembali dengan Ramadhan adalah nikmat besar. Tanpa rasa syukur, ibadah akan terasa berat. Rasa syukur itulah yang sebenarnya patut kita syukuri," tambahnya.

Melangitkan Proposal kepada Sang Pencipta

​Setelah rencana atau kurikulum ibadah tersusun rapi, Najib berpesan agar rencana tersebut dijadikan sebuah "Proposal Ramadhan" yang diajukan kepada Allah SWT. Perencanaan manusia, menurutnya, harus "dilangitkan" agar mendapatkan kemudahan dan keberkahan.

​Sebagai penutup, ia mengutip janji Allah tentang kedekatan-Nya dengan hamba yang berdoa:

"Sesungguhnya Aku (Allah) amat dekat dan Aku akan mengabulkan hamba-Ku yang mau berdoa kepada-Ku..."

​"Apa yang sudah direncanakan dalam proposal Ramadhan ini, langitkan. Mintalah kepada Allah agar dikabulkan. Tanpa melibatkan Allah dalam rencana kita, seolah-olah kita menghilangkan peran Tuhan dalam kehidupan ini," pungkasnya.

Baca Lainnya