Targetkan 13,77 Juta TEUs, Pelindo Optimis Ekspor Indonesia Kian Tangguh di 2026

Armand
Selasa, 10 Februari 2026 16:52 WIB
Sejumlah alat angkat bongkar muat peti kemas di dermaga pelabuhan atau quay container crane milik PT Pelindo Terminal Petikemas tengah dalam proses produksi. Alat-alat tersebut diperkirakan tiba di tanah air secara bertahap pada semester II tahun 2026.

 

Surabaya, eNews – PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) menatap tahun 2026 dengan kepercayaan diri tinggi. Subholding PT Pelabuhan Indonesia (Persero) ini mematok target arus peti kemas sebesar 13,77 juta TEUs, melonjak 10 persen dibandingkan realisasi tahun 2024.

​Optimisme ini bukan tanpa alasan. Solidnya kinerja ekonomi nasional yang tumbuh 5,11 persen pada tahun 2025 menjadi fondasi kuat bagi peningkatan aktivitas industri di berbagai wilayah Indonesia.

​Motor Pertumbuhan di Berbagai Wilayah

​Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menjelaskan bahwa pertumbuhan arus peti kemas akan didorong oleh komoditas unggulan dan proyek strategis di berbagai daerah:

​"Kami melihat geliat industri di daerah-daerah sangat positif. Untuk mendukung target ini, kami akan memperkuat layanan dengan mendatangkan alat bongkar muat baru guna meningkatkan kualitas layanan bagi pengguna jasa," ujar Widyaswendra di Surabaya, Selasa (10/02).

 

​Ekspor dan Logistik Melaju Kencang

​Sejalan dengan proyeksi Pelindo, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno, memperkirakan ekspor nasional akan tumbuh sekitar 7 persen pada 2026. Hadirnya berbagai perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) menjadi kunci kompetitifnya produk Indonesia di pasar global.

​Di sisi lain, sektor logistik diprediksi tumbuh lebih agresif. Sekjen Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Trismawan Sanjaya, memproyeksikan sektor transportasi dan pergudangan tumbuh hingga 11,6 persen.

​"Faktor domestik seperti ledakan e-commerce, hilirisasi industri, serta program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis akan menjadi penggerak utama permintaan layanan logistik," jelas Trismawan.

​Strategi Menghadapi Tantangan Global

​Akademisi FEB Universitas Sebelas Maret (UNS), Lukman Hakim, menilai pelemahan nilai tukar justru bisa menjadi peluang bagi sektor manufaktur seperti alas kaki dan tekstil untuk lebih bersaing di luar negeri. Namun, ia menekankan pentingnya pemetaan pasar.

​"Peluang ekspor ke Timur Tengah dan Afrika masih sangat terbuka. Kuncinya adalah pemetaan pasar yang tepat dan dukungan kemudahan perizinan serta akses pembiayaan bagi pelaku usaha," ungkap Lukman.

​Menuju Efisiensi Logistik

​Sebagai penggerak rantai pasok, Pelindo terus berfokus pada modernisasi infrastruktur. Keberadaan pelabuhan yang mampu melayani kapal besar tanpa harus transit di negara lain menjadi target utama untuk menciptakan biaya logistik yang lebih efisien.

​Dengan sinergi antara modernisasi alat, kebijakan ekspor yang suportif, dan penguatan ekonomi domestik, PT Pelindo Terminal Petikemas optimis mampu menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026.

  • Sulawesi (TPK Kendari): Didorong masifnya ekspor nikel.
  • Kalimantan Utara (TPK Tarakan): Menangkap potensi logistik Liquefied Natural Gas (LNG).
  • Papua (TPK Merauke): Peningkatan arus barang berkat dukungan Proyek Strategis Nasional (PSN).
  • Jawa (TPK Semarang): Didorong sektor manufaktur dari Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) dan Kawasan Industri Kendal (KIK).

Baca Lainnya