Lebih dari Sekadar Menulis, Jurnalis Cilik MIM Dupan Asah Karakter Lewat "Radar" Kritis
yupan
Kamis, 12 Februari 2026 14:35 WIB
Surabaya, eNews - Ruang 1B MI Muhammadiyah 28 (MIM Dupan) Bangkingan tampak berbeda pada Kamis siang (12/2/2026). Nafeeza Rizkya Almaherra, jurnalis cilik kelas 3, sedang mewawancarai seniornya, Fatimah Azzahra dari kelas 5, mengenai keistimewaan menjadi bagian dari tim jurnalistik sekolah.
Dalam wawancara eksklusif tersebut, Fatimah memaparkan bahwa menjadi jurnalis sekolah bukan hanya soal mengisi mading atau media sosial, melainkan tentang membentuk karakter yang tangguh dan cerdas di era digital.
Menjadi "Penyaring" Hoaks di Usia Dini
Salah satu poin utama yang ditekankan Fatimah adalah kepemilikan "Radar" Kritis. Menurutnya, siswa jurnalistik dilatih untuk tidak menelan informasi bulat-bulat.
"Kami diajarkan untuk selalu verifikasi sebelum berbagi. Di tengah banyaknya hoaks, kami harus objektif dan melihat masalah dari berbagai sudut pandang," ujar Fatimah dengan penuh percaya diri.
Keberanian di Balik Pertanyaan 5W+1H
Tidak hanya soal ketajaman berpikir, dunia jurnalistik di MIM Dupan juga menjadi kawah candradimuka bagi mental siswa. Fatimah menjelaskan bahwa keterampilan public speaking tumbuh secara alami saat mereka melakukan wawancara.
Kemampuan menyusun pertanyaan yang berbobot menggunakan rumus 5W+1H membuat para jurnalis cilik ini tidak lagi canggung saat harus berhadapan dengan guru, kepala sekolah, hingga tokoh masyarakat. Hal ini secara otomatis memperluas jaringan pertemanan (networking) mereka melampaui batas kelas.
Mahir Literasi dan Teknologi
Keistimewaan lain yang dibahas dalam pertemuan di Ruang 1B tersebut meliputi:
Pertama, Kemampuan Menulis: Mengubah kejadian biasa menjadi storytelling yang sistematis dan menarik.
Kedua, Manajemen Waktu: Terbiasa dengan deadline liputan yang melatih mereka bekerja cepat namun tetap akurat.
Ketiga, Melek Teknologi: Penguasaan fotografi, videografi, hingga desain layout untuk media sekolah.
Pencatat Sejarah Sekolah
Menutup sesi wawancara, Fatimah menekankan bahwa jurnalis cilik adalah "suara" sekolah. Mereka bukan sekadar pengamat, melainkan pencatat sejarah kecil yang terjadi di lingkungan MIM Dupan.
"Siswa jurnalistik itu istimewa karena kami belajar untuk benar-benar peduli dengan apa yang terjadi di sekitar kami," pungkasnya kepada Nafeeza.
Kegiatan wawancara antar-jenjang kelas ini membuktikan bahwa literasi di MIM Dupan Bangkingan telah menjadi napas bagi perkembangan kreativitas siswa sejak dini.
Baca Lainnya
Jurnalis Cilik SDM 22 Surabaya Ulik Rahasia Sukses Pak Sukur, Penjual Cimol Setia Sejak 2007
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 2 Hari
Siswa MI Muhammadiyah 25 Surabaya Antusias Ungkap Alasan Mengapa Jurnalistik Penting
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 5 Hari
Bukan Sekadar Menulis, Ini Alasan Siswa MIM Dupan Wajib Melek Jurnalistik
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 7 Hari
Asah Skill Kehidupan, Siswa SD Mudalan Surabaya Mulai Akrab dengan Dunia Jurnalistik
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 8 Hari
Waspada "Jebakan Batman" Digital: Jurnalis Cilik MIM 27 Surabaya Bedah Bahaya Hoax
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 13 Hari
Keseruan Belajar Kelompok: Cara Jurnalis Cilik MIM 28 Surabaya Tuntaskan Tugas
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 14 Hari
Jurnalis Cilik SDM 29 Surabaya Belajar Tangkal Hoax: Lindungi Anak dari "Jebakan Batman" Digital
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 15 Hari
Aksi Jurnalis Cilik SDM 22 Surabaya: Mengupas Bahaya "Jebakan Batman" Hoax di Era Digital
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 16 Hari
Jurnalis Cilik MIM 25 Surabaya Gali Inspirasi dari Sanggar Tari Gito Maron
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 19 Hari
