Musycab Tapak Suci Sambikerep, Momentum Regenerasi dan Penguatan Kaderisasi Pasca-Kevakuman

yupan
Rabu, 31 Desember 2025 14:47 WIB
Istimewa

 

Surabaya, eNews – Kepengurusan Cabang 128 Tapak Suci Putera Muhammadiyah Sambikerep sukses menggelar Musyawarah Cabang (Musycab) pada Ahad (28/12/2025). Bertempat di Masjid Al Huda, Sambiroto, perhelatan ini menjadi tonggak penting keberlanjutan organisasi setelah menyelesaikan masa bakti periode 2021–2025.

​Musycab kali ini tidak hanya menjadi ajang pelaporan pertanggungjawaban, tetapi juga sarana kaderisasi dini. Panitia secara khusus melibatkan siswa tingkat menengah hingga atas (kelas 7-12) agar mereka memahami mekanisme organisasi di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah sejak dini.

Menata Kembali dari Kevakuman

​Dalam laporan pertanggungjawabannya, pengurus periode 2021–2025 yang dipimpin oleh Syaifullah (Ketua) dan Anang Dony Irawan (Sekretaris) memaparkan dinamika penataan organisasi. Periode ini menjadi masa krusial bagi Tapak Suci Sambikerep yang sebelumnya sempat mengalami kevakuman.

​Fokus utama pengurus adalah menghidupkan kembali latihan rutin, ujian kenaikan tingkat, hingga keikutsertaan siswa dalam berbagai ajang pertandingan. Langkah ini dilakukan sembari memperkuat struktur administrasi dan menjalin komunikasi intensif dengan orang tua siswa serta pimpinan Muhammadiyah setempat.

Dinamika Pemilihan: Amanah Bukan untuk Diperebutkan

​Agenda pemilihan pengurus periode baru memunculkan dinamika yang menarik. Anang Dony Irawan memperoleh suara terbanyak untuk menjabat sebagai Ketua Cabang. Namun, Anang sempat menyampaikan keberatan demi menjaga etika organisasi, mengingat dirinya saat ini masih mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sambikerep.

​“Saya khawatir rangkap jabatan justru tidak optimal. Amanah ini sangat berat dan saya ingin tetap menjaga etika organisasi,” ungkap Anang di hadapan forum.

​Merespons hal tersebut, Pembina Tapak Suci Sambikerep, M. Adenin, Pendekar Kepala, memberikan pandangan bijak. Ia menegaskan bahwa dalam situasi transisi pasca-vakum, stabilitas kepemimpinan sangat diperlukan.

​“Tapak Suci Sambikerep baru saja bangkit. Proses penataan ini belum tuntas, sehingga butuh figur yang paham betul sejarah perjalanan kita. Ingat, dalam Tapak Suci, amanah tidak untuk diperebutkan, tetapi untuk dijalankan saat mandat telah diberikan,” tegas M. Adenin.

Prinsip Sami’na wa Atho’na

​Dorongan serupa disampaikan oleh Ketua 2 Pimpinan Daerah 06 Tapak Suci Surabaya, Yusuf Wibisono, Pendekar Kepala. Ia menekankan pentingnya kesinambungan pembinaan kader di atas kepentingan sektoral.

​Musycab akhirnya berujung pada penguatan komitmen para kader. Dengan memegang teguh prinsip Sami’na wa Atho’na (kami dengar dan kami taat), Musycab ini diharapkan mampu membawa Tapak Suci Sambikerep menjadi wadah pembinaan siswa yang lebih solid, berakhlak mulia, dan berprestasi di masa depan. (Hamdani)

Baca Lainnya