Pentingnya Saling Menghargai
Didik Hermawan
Kamis, 5 Desember 2024 10:56 WIB
Oleh: Didik Hermawan
Ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Pakal
Hidup harmoni dalam perbedaan
kemajemukan bangsa Indonesia tercermin dalam keragaman suku, ras, agama, budaya dan bahasa .
Semua ini adalah karunia terindah yang Allah Swt berikan kepada bangsa Indonesia. Akan tetapi kemajemukan ini harus disikapi dengan spirit tasamuh tenggang rasa, hidup harmoni dalam sebuah perbedaan.
Di dalam Al Quran surat Al Hujurat Ayat 13 Allah Swt memerintahkan untuk bisa hidup harmoni dalam perbedaan
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Dengan pendekatan tafsir tahlili dapat di simpulkan beberapa nilai yang terkandung dalam surat Al Hujurat ayat 13 pertama, menghormati perbedaan suku, ras, budaya dan bahasa, Wahba Az Zuhaili juga menjelaskan ayat ini turun sebagai teguran kepada mereka yang mengolok Bilal Bin Rabah yang merupakan budak berkulit hitam dari Habasyah ketika mengumandangkan adzan.
Kedua, menghormati perbedaan dalam beragama, menghormati keyakinan orang, tidak memaksakan kehendak serta tidak mencela atau menghina agama lain dengan alasan apapun.
Ketiga, gender equality, dalam Qiraah Mubadalah di dasarkan pada resiprokal secara sadar menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai subyek yang utuh dan setara, tidak saling menghegomoni, tetapi saling menunjang dan melengkapi, dalam rana publik relasi laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama. Dalam ranah domestik laki-laki dan perempuan kerjasama/kesalingan.
Namun kemajemukan ini bisa membawa dampak positif dan negatif. Apabila kemajemukan tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan konflik sosial vertikal maupun horizontal.
Konflik dan krisis yang mencuat sering diasumsikan sebagai kebekuan / kejumudan manusia dalam memahami teks agama. Hal ini di sebabkan karena ketidakmampuan membaca teks agama yang dipadukan dengan realitas sosial.
Perlu adanya sebuah kesadaran bahwa tidak semua dalam kehidupan itu harus sama, pelangi yang datang setelah hujan itu indah karena berbeda warna.
Baca Lainnya
Tragedi NTT dan Matinya Kemanusiaan di Dunia Pendidikan
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Hari
Pakar Hukum Soroti Kekeliruan Penanganan Kasus di Polres Sleman: Pentingnya Penguasaan KUHP Baru
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 8 Hari
Sikap Kapolri Tolak Jabatan Menteri Kepolisian Dinilai Tepat dan Konstitusional
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 10 Hari
Dermawan, Sabar, dan Mudah Memaafkan adalah Ciri Orang Bertaqwa
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 11 Hari
Ironi Makan Bergizi Gratis: Antara Perut yang Kenyang dan Nalar Pendidikan yang Tergerus
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 15 Hari
Ariya Saputra: Merajut Empati Lewat Literasi dan Dedikasi Komunitas
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 24 Hari
Wajah Baru Hukum Nasional 2026: Dekolonialisasi atau Ancaman bagi Kedaulatan Rakyat?
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Bulan
Liburan Usai, Ketua RT 06 Dupak Bandarejo Bagikan 5 Strategi Jitu Siapkan Anak Kembali ke Sekolah
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Bulan
Milad Ke-58 SD Muhammadiyah 11 Surabaya: Mengabdi untuk Negeri, Mencetak Generasi Qur’ani
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Bulan
Menanam "Kurma" Dakwah di Pakis Gunung: Jejak Ketulusan Pak Abdullah Membangun Panti Asuhan
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 1 Bulan
