Inovasi Tanpa Batas, Peran Vital Teknologi IoT dalam Memperkuat Mobilitas Disabilitas

yupan
Kamis, 18 Desember 2025 12:44 WIB
Ilustrasi

Penulis: Muhammad Barik Azka, Mahasiswa Teknik Informatika UNAIR

Internet of Things (IoT) berkembang menjadi teknologi yang memberi dampak signifikan bagi penyandang disabilitas. Di dunia, sekitar 1,3 miliar orang hidup dengan disabilitas signifikan, setara dengan 16% populasi global. Di Indonesia, jumlah penyandang disabilitas diperkirakan mencapai belasan hingga puluhan juta jiwa, bergantung pada sumber dan tahun survei Badan Pusat Statistik (BPS). Angka ini menunjukkan betapa pentingnya solusi berbasis teknologi untuk memperkuat kemandirian dan aksesibilitas mereka.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi penyandang disabilitas adalah mobilitas, seperti menavigasi bangunan, ruang publik, dan menggunakan transportasi umum. Situasi ini kerap diperparah oleh hambatan sosial, seperti stigma dan diskriminasi, serta hambatan struktural berupa keterbatasan infrastruktur ramah disabilitas.

IoT menawarkan jalan keluar yang lebih cerdas. Berbagai perangkat seperti smart home, alat bantu navigasi, dan sensor digital memberikan akses terhadap lingkungan yang lebih responsif. Contohnya adalah smart cane yang dilengkapi sensor ultrasonik di bagian depan bawah untuk mendeteksi rintangan pada jarak 1–2 meter. Ketika hambatan terdeteksi, tongkat memberikan umpan balik haptik melalui getaran atau notifikasi audio, mengarahkan pengguna untuk mengambil keputusan berpindah arah secara aman.

Selain itu, inovasi dari dalam negeri juga berkembang pesat. Salah satunya Vismate (Visual Mate), alat bantu berbasis IoT yang dikembangkan mahasiswa Universitas Brawijaya untuk mendukung komunikasi dan mobilitas penyandang tunanetra. Kehadiran inovasi seperti ini membuktikan bahwa teknologi dapat diadaptasi menjadi solusi nyata yang lebih terjangkau dan relevan dengan kebutuhan lokal.

Integrasi IoT dalam kehidupan sehari-hari pun memberi manfaat yang luas. Pengguna melaporkan mendapatkan “kebebasan yang lebih besar” karena dapat mengendalikan perangkat seperti lampu, AC, atau kunci pintu melalui smartphone atau perintah suara. Bagi penyandang disabilitas, kemampuan sederhana seperti menyalakan lampu tanpa harus bergerak jauh adalah bentuk kemandirian yang sangat berarti.

Namun, penerapan IoT tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan finansial, minimnya aksesibilitas digital bawaan pada perangkat, serta infrastruktur internet yang tidak merata membuat sebagian penyandang disabilitas sulit mendapatkan manfaat penuh dari teknologi ini. Hambatan sosial dan sikap masyarakat juga perlu ditangani agar pemanfaatan teknologi tidak terhambat oleh diskriminasi dan minimnya edukasi.

Meski begitu, potensi IoT untuk meningkatkan kemandirian, otonomi, dan kualitas hidup penyandang disabilitas sangat besar. Teknologi ini membantu mereka mendapatkan akses terhadap informasi, ruang gerak yang lebih aman, dan kendali lebih besar atas lingkungan sekitar. Dengan dukungan ekosistem digital yang inklusif, IoT dapat menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih mandiri, percaya diri, dan bermartabat bagi penyandang disabilitas.

Baca Lainnya
Setiap Hari adalah Hari Ibu: Refleksi Aku dan Mama
Nashrul Mu'minin
  • 0 Suka .
  • 0 Komentar .
  • 15 Hari