Surabaya Untuk Semua, Merawat Harmoni di Tengah Keberagaman Identitas

yupan
Minggu, 28 Desember 2025 20:06 WIB
Dokumen Pribadi

Oleh: Nur Syamsi MSos

 “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal.”
(Q.S. Al-Hujurat: 13)

Firman Allah ini secara tegas mengakui bahwa manusia adalah makhluk personal dengan beragam latar belakang, namun pada saat yang sama juga menegaskan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Dalam bahasa lain, inklusivitas adalah sunnatullah. Hidup dalam keberagaman bukan pilihan manusia semata, melainkan kehendak Tuhan. Merajut relasi antarindividu yang berbeda ras, suku, dan agama dalam interaksi sosial adalah perintah Ilahi yang bersifat eksplisit.

Mengidentifikasi dan meneguhkan jati diri bukanlah sesuatu yang dilarang, sebab itu bagian dari sunnatullah. Namun, identitas kehilangan maknanya ketika berubah menjadi alat arogansi—bukan lagi sarana pengenalan, melainkan media intimidasi; bukan penguat kebersamaan, melainkan jalan dominasi, baik pribadi atas pribadi, golongan atas golongan, maupun satu suku atas suku lainnya.

Sebagai kota metropolitan sekaligus kota sejarah, Surabaya adalah miniatur keberagaman Indonesia. Warganya datang dari beragam latar belakang suku, agama, bahasa, dan budaya. Maka, setiap pribadi yang memilih hidup di Surabaya sejatinya juga harus siap menerima perbedaan sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan kota ini.

Selama ini, Surabaya terbukti mampu menjaga keberagaman tersebut dengan cukup baik. Contoh paling sederhana terlihat dari keseharian kota: di satu sudut terdengar logat khas Arek Suroboyo, di sudut lain bercampur dengan bahasa Madura, Jawa Mataraman, hingga dialek Tionghoa. Semua hadir dan hidup berdampingan dalam ritme aktivitas yang sama, tanpa perlu saling meniadakan.

Di kawasan permukiman, keberagaman tercermin dalam praktik hidup sehari-hari. Saat bulan Ramadan, warga non-Muslim di banyak kampung ikut menjaga suasana kondusif, sementara warga Muslim menghormati aktivitas ibadah agama lain di luar bulan suci. Pada perayaan Nyepi, Natal, maupun Imlek, ucapan selamat lintas iman menjadi pemandangan yang lumrah—sebuah tanda bahwa identitas personal tetap terjaga, namun dibingkai oleh kesadaran kolektif sebagai sesama warga kota.

Ruang publik Surabaya juga menjadi titik temu identitas tanpa sekat. Di Taman Bungkul, anak-anak muda dari berbagai latar belakang berkumpul—berolahraga, berdiskusi, atau sekadar menikmati waktu luang. Mereka mungkin berbeda suku, keyakinan, dan pandangan hidup, tetapi disatukan oleh ruang yang sama dan rasa memiliki terhadap kota. Identitas personal tidak dihapus, melainkan dilebur dalam identitas kolektif sebagai warga Surabaya.

Surabaya tumbuh besar karena keberaniannya menerima perubahan dan perbedaan. Demikian pula bangsa ini hanya akan maju jika setiap identitas diberi ruang yang setara dan proporsional. Bukan untuk diseragamkan, melainkan untuk saling melengkapi dalam semangat kebersamaan.

Namun, tantangan tetap ada. Media sosial kerap menjadi stimulan yang membesarkan perbedaan, bahkan mempertentangkannya. Isu identitas dengan mudah diseret ke arah polarisasi, termasuk di tingkat lokal. Media sosial sering dijadikan ajang provokasi antar kelompok. Di sinilah pesan tentang saling memahami menjadi krusial, ketika egoisme berbasis identitas dipertaruhkan.

Masyarakat Surabaya, dengan tradisi egaliter dan budaya arek yang terbuka, sejatinya memiliki modal sosial yang kuat untuk meredam konflik identitas—baik yang lahir dari realitas sosial maupun dari informasi sepotong di ruang digital.

Pada akhirnya, keberagaman adalah kehendak Tuhan sekaligus tanggung jawab manusia. Hidup berdampingan dalam perbedaan bukanlah utopia. Ia nyata, hidup, dan berlangsung setiap hari. Tinggal bagaimana kita merawatnya: dengan prasangka, atau dengan saling memahami demi mewujudkan Surabaya untuk semua.

Baca Lainnya
Setiap Hari adalah Hari Ibu: Refleksi Aku dan Mama
Nashrul Mu'minin
  • 0 Suka .
  • 0 Komentar .
  • 15 Hari