Setiap Hari adalah Hari Ibu: Refleksi Aku dan Mama
Nashrul Mu'minin
Senin, 22 Desember 2025 07:00 WIB
Nashrul Mu'minin content writer yogyakarta
Setiap tanggal 22 Desember, linimasa media sosial dipenuhi ucapan selamat Hari Ibu. Foto bunga, rangkaian kata cinta, hingga doa-doa terbaik mengalir deras. Aku ikut tersenyum membacanya, tetapi di sisi lain ada perasaan ganjil yang muncul: apakah benar kasih dan jasa seorang ibu hanya cukup diingat setahun sekali? Dari pertanyaan sederhana itu, refleksi ini lahir—refleksi tentang aku dan mama, tentang sejarah Hari Ibu, dan tentang makna ibu yang sesungguhnya.
Hari Ibu di Indonesia bukan sekadar perayaan domestik atau simbol romantisme keluarga. Ia lahir dari sejarah panjang perjuangan perempuan Indonesia. Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta menjadi tonggak penting kesadaran kolektif perempuan untuk melawan penindasan kolonial, feodalisme, dan belenggu adat yang merendahkan martabat mereka. Dari sanalah lahir semangat bahwa perempuan bukan hanya pendamping, tetapi pelopor perubahan. Penetapan 22 Desember sebagai Hari Ibu melalui Keputusan Presiden pada 1959 menegaskan bahwa ibu adalah simbol perjuangan, bukan semata-mata peran biologis.
Namun bagiku, makna Hari Ibu menemukan wujud paling nyatanya pada sosok mama. Ia bukan tokoh sejarah yang namanya tercatat dalam buku, tetapi pengorbanannya tertulis jelas dalam perjalanan hidupku. Mama tidak pernah memimpin kongres, tetapi setiap hari ia memimpin kesabaran. Ia tidak berpidato tentang kemerdekaan, tetapi dari tangannyalah aku belajar arti merdeka—merdeka bermimpi, merdeka jatuh dan bangkit, merdeka menjadi diri sendiri.
Aku dilahirkan bukan dari rahim seorang perempuan yang hidup serba berkecukupan. Mama hidup dengan keterbatasan, baik ekonomi maupun kesempatan. Pernah ada masa ketika aku membandingkan hidupku dengan orang lain: keluarga yang tampak sempurna, rumah yang megah, atau kemudahan yang seolah tinggal meminta. Saat itu aku lupa satu hal penting—bahwa aku dilahirkan dari rahim seorang ibu yang luar biasa kuat. Dan itu jauh lebih berharga daripada semua kemewahan.
Mama tidak pernah meminta balasan. Ia tidak menghitung berapa biaya yang telah dikeluarkan untuk membesarkanku. Bahkan sering kali, kebahagiaannya lahir dari hal-hal kecil: saat aku pulang dengan selamat, saat aku makan dengan lahap, atau saat aku sekadar bercerita meski tanpa solusi. Dari mama aku belajar bahwa cinta paling tulus adalah cinta yang tidak menuntut.
Bagi banyak orang, rumah adalah bangunan. Bagiku, rumah adalah mama. Ketika dunia terasa terlalu bising, ketika masalah datang bertubi-tubi, mama adalah tempat paling tenang untuk kembali. Tidak semua keluh kesah bisa aku ceritakan kepadanya, bukan karena ia tidak mampu mendengar, tetapi karena aku ingin melindungi hatinya. Namun sering kali, tanpa aku bercerita pun, mama sudah tahu. Seolah hatinya memiliki bahasa sendiri untuk membaca kegelisahanku.
Nasihat mama terkadang terdengar sederhana, bahkan kadang terasa klise. Tetapi waktu selalu membuktikan bahwa kata-katanya tidak pernah sia-sia. Ia mungkin tidak menjelaskan dengan istilah rumit, tetapi kebijaksanaannya tumbuh dari pengalaman hidup yang panjang dan ketulusan yang dalam. Kata demi kata dari mama adalah mutiara—tidak selalu berkilau di awal, tetapi bernilai tinggi sepanjang waktu.
Karena itulah aku merasa Hari Ibu tidak cukup dirayakan pada 22 Desember saja. Jika cinta mama hadir setiap hari, mengapa penghormatan kepadanya dibatasi oleh kalender? Setiap hari adalah Hari Ibu, sebab setiap hari mama mendoakan tanpa henti, mencemaskan tanpa diminta, dan mencintai tanpa syarat. Tidak ada perayaan yang benar-benar sebanding dengan pengorbanannya.
Dalam ajaran agama yang aku yakini, surga berada di bawah telapak kaki ibu. Kalimat itu bukan sekadar nasihat moral, melainkan pengingat bahwa ridha Tuhan sangat dekat dengan ridha seorang ibu. Setiap langkah hidupku, aku sadar, selalu diiringi doa mama—doa yang mungkin tak terdengar, tetapi terasa.
Pada Hari Ibu tahun 2025 ini, refleksiku sederhana. Aku ingin meminta maaf. Maaf atas keras kepala yang sering muncul, atas kata-kata yang kadang melukai, atas pencapaian yang belum seberapa. Maaf karena sering ingin dimengerti, tetapi lupa memahami. Dan di saat yang sama, aku ingin mengucapkan terima kasih—terima kasih karena mama tidak pernah berhenti menjadi rumah, menjadi doa, dan menjadi cinta paling tulus dalam hidupku.
Jika hari ini aku masih bisa berdiri, bermimpi, dan berjalan ke depan, itu karena mama. Maka bagiku, Hari Ibu bukan hanya peringatan sejarah, bukan hanya tanggal di kalender. Hari Ibu adalah setiap hari ketika aku masih memiliki mama untuk dipeluk, didoakan, dan dicintai.
Terima kasih, Mama. Kasih sayangmu tidak akan pernah tergantikan—sepanjang masa.
Baca Lainnya
Liburan Usai, Ketua RT 06 Dupak Bandarejo Bagikan 5 Strategi Jitu Siapkan Anak Kembali ke Sekolah
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 2 Hari
Milad Ke-58 SD Muhammadiyah 11 Surabaya: Mengabdi untuk Negeri, Mencetak Generasi Qur’ani
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 4 Hari
Menanam "Kurma" Dakwah di Pakis Gunung: Jejak Ketulusan Pak Abdullah Membangun Panti Asuhan
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 5 Hari
Surabaya Untuk Semua, Merawat Harmoni di Tengah Keberagaman Identitas
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 8 Hari
Menuju Puncak Natal Kemenag: Niat Baik yang Perlu Hati-Hati
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 12 Hari
Inovasi Tanpa Batas, Peran Vital Teknologi IoT dalam Memperkuat Mobilitas Disabilitas
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 19 Hari
Swasembada di Atas Luka: Mempertanyakan Ambisi Energi di Tengah Krisis Ekologi
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 20 Hari
Dilema Historiografi Nasional, Antara Revitalisasi Narasi dan Sanitasi Kebenaran Sejarah
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 21 Hari
Perpol Nomor 10 Tahun 2025 Sah Secara Hukum, Tidak Bertentangan dengan Putusan MK Mengenai Penempatan Anggota Polri
- 0 Suka .
- 0 Komentar .
- 22 Hari
